Produksi Cabai Turun Drastis

CABAI
KERING. Tanaman cabai milik petani di Desa Petarangan Kecamatan Kledung kering. 

TEMANGGUNG – Musim kemarau yang terjadi pada tahun ini terjadi lebih dini, sehingga menyebabkan tanaman cabai milik petani di lereng Gunung Sumbing tepatnya di Desa Petarangan Kecamatan Kledung tidak bisa tumbuh maksimal. Akibatnya produksi cabai menurun drastis.

“Saat menanam memang masih ada hujan, namun saat masa pertumbuhan hujan sudah tidak turun lagi. Sehingga pertumbuhan cabai menjadi terganggu,” terang Solikhin salah satu petani cabai, kemarin.

Ia menuturkan, biasanya dalam luasan lahan dengan jumlah tanam kurang lebih 2.500 tanaman cabai paling tidak bisa menghasilkan cabai kurang lebih 8 hingga 9 kuintal. Namun saat ini dengan luasan lahan dan jumlah tanam yang sama paling banyak hanya menghasilkan 4 hingga 6 kuintal saja.

“Cabai kan panennya bertahap, biasanya saat panen raya paling tidak bisa panen 40 sampai 50 kilogram. Tapi sekarang paling banyak hanya 20 kilogram saja,” keluhnya.

Selain karena faktor cuaca, menurunnya produksi cabai ini juga disebabkan oleh hama yang menyerang tidak mengenal musim.

“Sama saja, saat musim penghujan dan kemarau hama tetap ada,” katanya.

Senada, Saminah petani lain menyebutkan cuaca ekstrim dan waktu kemarau panjang memang menyebabkan tanaman cabai kekeringan. Hal itu memang berpengaruh terhadap menurunnya hasil panen. Karena hasil panen tidak maksimal, cabai memang dijual dengan harga cukup tinggi, yakni mencapai Rp40.000 per kilogram.

“Untuk harga cabai merah keriting, saat ini sekitar Rp40.000 per kilogram,” tutur dia.

Menurutnya, harga hasil panen mencapai Rp40.000 per kilogram, terjadi dalam beberapa hari terakhir saja. Sebelumnya harga di tingkat petani sekitar Rp15.000 hingga Rp40.000 per kilogram.

“Naiknya memang setahap setahap, tapi jadi Rp40.000 cuma baru-baru ini,” ujarnya.

Meskipun harga tinggi, sejumlah petani mengaku masih belum mendapatkan untung, karena selain hasil panen sedikit, biaya yang dikeluarkan cukup banyak. Seperti halnya untuk membeli pupuk dan obat-obatan, serta kebutuhan lainnya.

“Kalau bicara untung rugi jelas banyak ruginya. Karena hasil panen tidak maksimal, tetap biaya yang sudah dikeluarkan sudah cukup banyak untuk pupuk dan obat,” jelasnya. (set) 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here