Harga Lebih Mahal, Kualitas Dinilai Lebih Bagus

KAKIAN1
PROSES. Petani memproses tembakau garangan dengan berbagai peralatan untuk mendapatkan cita rasa terbaik tembakau dari lereng Sumbing

Berkunjung ke Rumah Produksi ‘Mbako’ Garangan di Bowongso

Meski cukup dikenal di kawasan Wonosobo, jenis olahan tembakau yang dibakar hingga kehitaman dan dijual dalam bentuk lembaran kotak masih cukup awam di kalangan perokok muda. Bahkan meskipun dinilai sebagai olahan tembakau yang semakin ditinggalkan, nyatanya tak mengurangi nilai jualnya yang jauh dari rokok kemasan maupun tembakau kering untuk lintingan.

SALAH satu desa penghasil tembakau garangan yakni Desa Bowongso Kecamatan Kalikajar yang ada di Lereng Sumbing. Desa di ketinggian lebih dari 1800 Mdpl itu dikenal dengan kualitas tembakaunya yang kerap dibandingkan dengan tembakau garangan asal Kejajar maupun wilayah lain.

Salah satu petani asal Bowongso, Rofiq menjelaskan, untuk memenuhi sekali pembakaran dengan empat rigen atau tempat memanggang dibutuhkan sekitar 120 hingga 150 kilogram lebih daun tembakau rajang basah. Biasanya tempat pemanggangan yang digunakan saat ini berbahan besi. Dahulu masih menggunakan rigen dari bambu. Namun karena ketahanannya lambat laun tergantikan.

“Perkiraan berat untuk sekali garang bisa sampai 20-25 kilo hasilnya. Untuk satu lembar dari satu rigen itu biasanya dihargai mulai Rp1,4 juta sampai 2,5 juta bahkan ada yang lebih. Hasil akhirnya berupa lembaran balok-balok tembakau yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun,” ungkapnya.

Sebelum dipanggang di atas bara api, biasanya tembakau yang sudah dirajang dan dijemur selama sehari lalu digiling. Proses berikutnya cukup lama dan bisa mencapai beberapa hari. Bahkan untuk hasil yang sempurna bisa mencapai 20 hari lebih.

“Setelah dibakar, tembakau kemudian dijemur kembali sampai sore atau sampai ayem istilahnya. Kalau hasilnya kurang memuaskan bisa dibakar lagi sampai bagus. Kalau tembakau sudah berwarna hitam ke cokelat-cokelatan seperti batang cokelat dan baunya harum biasanya proses dihentikan dan disimpan,” imbuhnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Maret 2021, Tingkat Kemiskinan di Kota dan Desa Kompak Naik

Para pedagang di pasar biasanya menjual potongan kecil tembakau garangan seharga Rp 50.000 atau sebesar bungkus rokok kecil. Sehingga secara umum harganya bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat rokok kemasan.

“Adanya kemajuan teknologi, para petani mulai mempelajari teknik membakar yang tadinya di tungku. Sekarang bisa di oven dan prosesnya cukup sehari saja. Bahkan setelah dirajang, bisa langsung dikeringkan dengan mesin. Beda dengan dulu bisa sampai berminggu-minggu dan biasanya pakai kayu kopi,” ungkapnya.

Menurut Hakim, salah satu pelanggan asal Kabupten Temanggung mengaku terpukau dengan kualitas dan citarasa tembakau garangan lereng Sumbing itu. Menurutnya, cara meracik tembakau garangan pun dinilai unik karena dari bentuknya yang padat harus dihancurkan hingga bisa dibentuk lintingan. Umumnya penikmat rokok garangan mencampurkan cengkeh hingga kemenyan untuk menambah citarasanya. Dirinya tidak keberatan merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah untuk sekedar membawa pulang selembar tembakau garangan itu.

“Kalau tembakau Temanggung umumnya jenisnya yang untuk lintingan biasa, jarang ada yang seperti ini. Apalagi yang memproses petaninya sendiri. Bagi saya, harga tidak masalah. Karena saya yakni juga kualitasnya bagus dan mengalahkan rasa rokok kemasan,” ungkapnya. (*)