Pembangunan Gardu Pandang Baru 50 Persen

    gardu pandang tidar
    SEPARUH. Pembangunan gardu pandang di Gunung Tidar baru sekitar 50 persen terealisasi. Penuntasan bangunan tempat wisata itu harus menunggu pencairan dari Banprov Jawa Tengah.

    //Tunggu Bantuan Pemprov//

    MAGELANG SELATAN – Pembangunan gardu pandang di kawasan Gunung Tidar tak bisa dituntaskan tahun ini. Pasalnya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) tak ingin pembangunan penunjang pariwisata itu memakan APBD Kota Magelang.

    ”Kami tunggu Batuan Provinsi (Banprov) untuk menyelesaikannya. Kemungkinan tahun depan (2020),” kata Kepala DPU-PR Kota Magelang, Chrisatrya Yonas Nusantrawan Bolla, Rabu (10/7).

    Ia menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan pembangunan gardu pandang di Gunung Tidar itu membutuhkan dana Rp5 miliar. Pada tahun 2018 lalu, Banprov sudah diterima Pemkot Magelang, namun belum sampai tahapan finishing. ”Baru sekitar 50 persen untuk yang Banprov tahun 2018. Kita sudah ajukan lagi, dan semoga saja tahun 2020 bisa diterima. Untuk besarannya yang pertama Rp2,5 miliar dan yang kami usulkan kurang lebih sama, sehingga kalau ditotal sekitar Rp5 miliar,” ujarnya.

    Menurutnya, dana sebesar itu kurang tepat bila menggunakan APBD Kota Magelang. Terlebih masih banyak pembangunan yang menjadi prioritas Pemkot Magelang.

    ”Sesuai arahan pimpinan, APBD diperuntukan untuk kegiatan urgen dan mendesak sesuai rencana. Adanya gardu pandang ini kami harapkan bisa menambah daya gedor pariwisata di Kota Magelang, tetapi juga tidak terlalu membebani APBD,” ucapnya.

    Ia menuturkan, APBD nantinya hanya akan dijadikan dana pemeliharaan bila gardu pandang sudah difungsikan. Menurut rencana, kontruksi gardu pandang sendiri, akan menyerupai Jurangkoco yang sudah terlebih dulu dibangun di Taman Kyai Langgeng.

    ”Cuma untuk kontruksinya nanti sepertinya lebih tinggi dan lebih luas. Saat ini sudah 50 persen pembangunan. Diharapkan tahun depan sudah bisa difungsikan,” tambahnya.

    Sebelumnya, Kepala Bappeda Kota Magelang, Joko Soeparno menjelaskan, gardu pandang ini dibangun di dua lokasi di Gunung Tidar. Biaya yang memang tidak sedikit, karena ditaksir pembangunan akan memakan dana paling banyak di biaya lansiran.

    Proyek ini, lanjutnya, berpegang pada prinsip menjaga nilai sakral dari Gunung Tidar dan memerhatikan keasrian serta keindahan lingkungan. Ia juga memastikan tidak akan menebang pohon terlalu banyak.

    ”Gardu pandang ini hanya fasilitas tambahan guna menunjang daya tarik wisatawan, utamanya peziarah. Barangkali peziaran setelah ke makam akan melanjutkan kunjungannya ke gardu pandang untuk menikmati sunrise atau sunset,” jelasnya.

    Rencana ini pun mendapat apresiasi dari kalangan anggota DPRD Kota Magelang. Meski demikian, diharapkan pembangunan mempedulikan estetika lingkungan dan tidak merusak alam yang sudah asri.

    ”Rencana ini memang sudah disetujui dan sangat bagus. Tapi konstruksinya harus menggunakan konsep tradisional dan harus memerhatikan estetika lingkungan,” ungkap Anggota Komisi A, Tyas Anggraeni.

    Dia menilai, penting bagi Pemkot untuk mengadaptasi tempat wisata yang kini sedang populer di masyarakat. Ia yakin, Gunung Tidar mampu memberikan warna tersendiri apabila gardu pandang sesuai keinginan pengunjung.

    ”Pembuatan harus bagus, kalau perlu spektakuler. Artinya nanti bisa menambah destinasi wisata dan tetap bernuansa alami,” tandasnya. (wid)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here