Petani Kejar Musim Tanam Tembakau

    Petani Kejar Musim Tanam Tembakau
    TEMBAKAU. Petani Tembakau di wilayah Kecamatan Borobudur mulai tanam Tembakau di awal musim Kemarau ini.

    BOROBUDUR – Petani Tembakau di kawasan Kecamatan Borobudur mengejar musim tanam tembakau sebelum benar-benar memasuki musim kemarau.

    Salah satu petani Tembakau di Dusun Klipoh Desa Karanganyar Borobudur, Nurcolis mengatakan, dirinya telah memulai menanam tembakau pada bulan puasa kemarin. Sehingga, hingga masa panen nanti akan telat waktu.

    “Perkiraan panen pertama tembakau pada tahun ini adalah di akhir bulan Agustus. Karena itu harus sudah ditanam mulai sekarang,” ucap Nurcolis, yang mengelola 6 hektar lahan pertanian tembakau di Kecamatan Borobudur.

    Menurut Nurcolis, jika terlambat menanam tembakau maka pertumbuhan tembakau akan tidak maksimal. Disamping itu persediaan air untuk menyirami tembakau akan berkurang.

    “Bulan depan sudah memasuki musim karo dalam perhitungan Jawa, dimana jika tembakau ditanam dimusim tersebut pertumbuhannya akan terhambat alias tidak tinggi. Karenanya, saat ini banyak petani tembakau ngebut mengolah lahan untuk segera ditanami bibittembakau,” papar Nurcolis.

    Kendala lain dalam tanam awal tembakau ini adalah ketersediaan air, dimana kawasan Kecamatan Borobudur sudah tidak turun hujan sejak awal Mei kemarin.

    “Tanaman Tembakau usia 1,5 bulan masih membutuhkan siraman air. Sedang saat ini sudah tidak hujan lagi sehingga diperlukan pasokan air dari sungai. Dan untuk pasokan air petani ambil dari Kali Sileng dengan menggunakan mesin pompa, dan itu harus bergiliran dengan petani lainnya,” papar Nurcolis.

    Nurcolis berharap pada tahun ini, panen tembakau dapat dihargai dengan harga tinggi, mengingat musim kemarau akan panjang, sehingga harapannya hasil panen akan bagus.

    “Tahun kemarin  harga Tembakau rata-rata Rp 40-50 ribu. Petani banyak  yang rugi  untuk  tahun  kemarin.

    Jika dilihat dari  biaya  modal yang  dua  kali  lipat, petani  berharap  seperti  tahun  2011, harga  bisa  mencapai Rp  200.000/kilo jadi  setara  dengan  biaya perawatan yang memang besar,” papar Nurcolis.(cha).

    Artikel Menarik Lainnya :  Kisah Dua Pemuda yang Nekat Jual Tempe untuk Bantu Pembangunan Masjid