WONOSOBO  – Pada hari pertama sekaligus pembukaan Even Kejuaraan Nasional Paralayang Trip Of Indonesia atau Troi 2019 di Bukit Kekeb Desa Lengkong Kecamatan Garung, para atlet sudah mulai menjajal medan diawali dengan seremonial pembukaan berupa pesta makanan lokal berupa tenong, kemarin (28/6).

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, One Andang Wardoyo, dibandingkan tahun lalu kesiapan warga untuk even semakin baik dan semangat panitia serta warga lokal Lengkong semakin bagus.

“Terbukti dengan jumlah peserta hingga 300 atlet. Sedangkan sebenarnya kuota awalnya hanya 200 atlet. Kami mengemas ini tak hanya even olahraga tapi dengan berbagai even pendukung mulai dari atraksi budaya baik kuliner hingga adat lokal. Beberapa peserta ada yang dari luar negeri seperti Korea, Turki, dan Eropa,” ungkap Andang.

Dijelaskan Andang bahwa kini masyarakat lokal juga lebih siap dan matang, mulai dari keberadaan homestay yang kini mulai bertambah dan semakin baik pelayanannya. Selain homestay, atau kesiapan hotel dinilai pihaknya transportasi dan layanan kuliner juga menjadi poin penting.

Kejuaraan Nasional Paralayang dibuka mulai sekitar pukul 09.15 WIB dan untuk perlombaan pertama dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Adanya pembagian jadwal terbang karena diikuti banyak peserta dan internasional termasuk. Terlebih menurut Nur Cholis, ketua panitia, dengan berbagai komponen lomba yang dipersiapkan oleh director.

 

“Aturan kejuaraan harus sesuai dengan standar di olahraga paralayang. Kami mulai jam 8 pagi dan kita close window jam  5 sore begitu hingga hari Minggu esok dan mungkin selesai sekitar pukul 13.00. Hal itu untuk alasan keamanan dan untuk skoring juga,” ungkapnya.

Sehingga dengan aturan itu bisa memungkinkan setidaknya 1 orang atlet akan terbang dua kali dalam sehari dan maksimal 6 kali. Atau setidaknya dua kali itu adalah angka minimal selama tiga hari kompetisi mengingat skor berasal dari akumulasi poin.

Artikel Menarik Lainnya :  Heboh, Kambing Berkaki Tiga di Purworejo

“Dari Wonosobo ada 5 atlet penerbang yang masih kategori pemula dan jadi ajang sparing partner. Sehingga, tahun depan mereka siap berlaga di lomba-lomba paralayang. Tahun ini memang belum targetkan prestasi dan menambah pengalaman mereka. Apalagi di even-even lain lawannya juga dari berbagai daerah bahkan nasional, utamanya untuk latih mental dan skill,” imbuh lelaki yang juga kerap menang di berbagai perlombaan itu.

Para atlet asal Wonosobo bahkan ada yang masih SMP dan SMA, rata-rata 16 tahun hingga 20 tahun. Bagi para penonton, ada juga Lomba Photo and Vlog Competition Paragliding Trip Of Indonesia Series 2 Wonosobo yang bisa dipantau di Instagram. (win)