Empat Makanan Mengadung Zat Berbahaya

    Empat Makanan Mengadung Zat Berbahaya
    OPERASI. Petugas gabungan yang terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM, Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan, Bagian Perekonomian Setda, Satpol PP dan Polres Wonosobo menggelar operasi pasar menjelang lebaran, Senin (27/05).

    //Sidak di Pasar Sapuran//

    WONOSOBO– Sidak yang digelar tim operasi pasar, menemukan empat jenis makanan yang dijual di Pasar Sapuran mengandung zat berbahaya. Masyarakat diimbau hati-hati membeli makanan. Pemkab akan terus melakukan pantauan terhadap keamanan pangan hingga lebaran nanti.

    Petugas gabungan yang terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM, Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan, Bagian Perekonomian Setda, Satpol PP dan Polres Wonosobo menggelar operasi pasar menjelang lebaran, Senin (27/5).

    “Sidak di pasar ini untuk memastikan makanan yang beredar di Wonosobo aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” ungkap Kasi Kefarmasian Makanan Minuman dan Alat kesehatan Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Wonosobo, Sutriatmoko.

    Menurutnya, sidak pasar untuk melakukan deteksi dini terhadap makanan-makanan yang beredar di pasaran dalam rangka menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

    Lebih lanjut, semua sampel yang diambil langsung diuji di lokasi penjualan pasar apakah mengandung bahan-bahan berbahaya yang sering disalahgunakan pada makanan seperti formalin, borax, pewarna tekstil rhodamin B dan metanil yellow.

    “Dari 21 sampel makanan yang dicurigai mengandung zat berbahaya. Setelah diuji, kami menemukan 4 makanan yang mengandung zat berbahaya,” jelasnya.

    Keempat makanan yang positif mengandung zat berbahaya tersebut, lanjutnya, yaitu cumi yang mengandung formalin. Kemudian ada dua makanan yang mengandung pewarna makanan yaitu krupuk cantor dan rengginang. Kedua makanan ini mengandung pewarna tekstil warna merah atau rhodamin B.

    “Makanan yang keempat adalah bleng. Bleng ini mengandung borax yang biasanya digunakan untuk bahan pengawet kayu. Biasanya bleng ini difungsikan oleh masyarakat untuk pengembang makanan krupuk,” jelasnya.

    Sementara itu Sekda Kabupaten Wonosobo M Zuhri mengemukakan bahwa monitoring yang dilakukan tim operasi pasar pemkab  guna memantau dan mengantisipasi jika ada lonjakan harga kepokmas, sesuai surat perintah bupati, kepada instansi terkait untuk lakukan pantauan pasar selama bulan ramadhan dan jelang lebaran.

    Artikel Menarik Lainnya :  Layang-layang Raksasa Buatan Tegar Mampu Terbangkan Manusia

    “Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memantau harga dan stok 9 kebutuhan pokok masyarakat selama bulan Ramadan dan jelang lebaran,” katanya

    Selain itu juga untuk melakukan pantuan dan kesiapan serta ketersediaan stok sembilan kebutuhan pokok masyarakat. Dan juga pantauan terhadap keamanan pangan terkait kesehatan pangan dan sanitasi.

    Dari pantauan yang telah dilakukan Tim beberapa hari terakhir, dikatakannya, harga dan stok pangan masih standar dan tidak ada fluktiatif harga dipasaran masih terjangkau dan tercukupi.

    Namun di sisi lain masih saja terjadi penyalahgunaan terkait keamanan pangan, dari sampel makanan yang di ambil dan di test oleh tim, ditemukan zat kimia yang tidak direkomendasikan aman pada makanan. Dari pantauan masih ditemukan rhodamin B (pewarna textile), borax, formalin dan zat lain yang dilarang.

    “Dari temuan tersebut tim meminta kepada penjual untuk menarik agar tidak di jual lagi atau bahkan ada yang di beli dan dibawa oleh petugas untuk di musnahkan, karena dirasa sangat membahayakan bagi kesehatan jika masih tetap didistribusikan dan di konsumsi masyarakat luas,” tutupnya. (gus)