Tahun 2028, Jateng Ditarget Bebas TBC

Tahun 2028, Jateng Ditarget Bebas TBC
TBC. Gubernu Jateng Ganjar Pranowo, Dubes AS Indonesia Joseph R Donovan JR bersama Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr Anung Sugihantono dan Direktur USAID  saat Peringatan Hari Tuberkulosis se-Dunia Tahun 2019 dan peringatan 70 tahun kemitraan Amerika Serikat di Borobudur (10/3).

BOROBUDUR – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana menggelar aksi daerah penanggulangan TBC Jawa Tengah tahun 2018-2023 dengan menargetkan eliminasi TBC di Jawa Tengah sampai 2028. Dalam menanggulangi penyakit TBC, pemerintah provinsi tak sendiri, namun membutuh bantuan dari pihak lain. “Kota Solo bicaranya sampai tahun 2025, untuk Jawa Tengah ditarget tahun 2028 bebas TBC,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam peringatan Hari Tuberkulosis se-Dunia Tahun 2019 dan peringatan 70 tahun kemitraan Amerika Serikat dan Indonesia di Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang, Minggu (10/3).

Menurut Ganjar, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri, bantuan dan kerjasama dari luar negeri maupun gerakan dari masyarakat dalam kader PKK yang bergerak mencari warganya yang mengidap TBC untuk diobati, menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini.

Disebutkan, jumlah kasus TBC di Provinsi Jawa Tengah tahun 2018 mencapai 49.616 kasus. Jumlah ini masih relatif tinggi, dengan capaian 49 % dari estimasi yang ditetapkan kasus secara nasional. Penderita tuberculosis di Jawa Tengah, dengan case notification sebanyak 143 kasus per 100 ribu. Jumlah penemuan kasus TBC di Jawa Tengah memang meningkat.

Ganjar menjelaskan, salah satu tindakan yang dilakukan pemerintah adalah dengan menggeliatkan peraturan daerah (perda) dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit di Jawa Tengah sejak 2013 lalu. Dan pada 2014, mulai dibentuk aturan umum ke khusus untuk menangani masalah penyakit termasuk TBC.

Selain perda, upaya lain, lanjutnya, adalah dengan menggerakkan para ibu kader PKK untuk dapat masuk ke keluarga-keluarga, memberikan edukasi terhadap penyakit TBC. Ada pula Saka Bhakti Husada, menjadi juru berkampanye untuk berkeliling dari wilayah ke wilayah di daerah untuk menjadi penyuluh kesehatan akan bahaya TBC di masyarakat.

Artikel Menarik Lainnya :  Warga yang Isoman Diberi Suplemen Herbal

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R Donovan JR bersama Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr Anung Sugihantono, Direktur USAID dan tamu undangan lainnya.

Duta Besar Amerika Serikat Joseph R Donovan, mengatakan, penyakit TBC masih menjadi ancaman serius terhadap ketahanan dan kesehatan global. Hal ini melihat banyaknya korban yang berjatuhan akibat penyakit TBC. “Banyaknya korban yang terjangkit TBC, juga mereka yang meninggal yang juga sebagian merupakan warga Indonesia, membuat TBC menjadi ancaman serius yang mesti diperangi,” ungkap Donovan.

Donovan mengatakan, masalah TBC ini membutuhkan upaya global, untuk memberantas penyakit yang telah menimbulkan banyak korban dan upaya ini telah direspon oleh para pemimpin dunia untuk mereka bersepakat meningkatkan tanggapan terhadap TBC.

Dari data Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan di tahun 2018, 10 juta jiwa terjangkit TBC, yang menyebabkan kematian 1,3 juta jiwa di dunia, dan 100 ribu jiwa di Indonesia. Angka ini dinilai masih cukup tinggi.

Pemerintah AS melalui USAID menjadi garda terdepan dalam perang melawan TBC melalui berbagai program dan kemitraan selama dua dekade di Indonesia. “Kami bermitra dengan solusi lokal, menggabungkan kekuatan investasi, komitmen bersama dan solusi lokal untuk semakin menurunkan beban TBC di Indonesia. Tentunya melalui pendekatan baru, Global Accelerator to End TB,” jelas Direktur USAID Erin E McKee. (cha/oko)