Walikota Minta Stop Tawuran !

deklarasi antitawuran
ANTITAWURAN. Puluhan pelajar yang hadir di acara CFD Rindam IV/Diponegoro membubuhkan tanda tangan deklarasi antitawuran, juga diikuti Forkompimda, termasuk Walikota Magelang, Sigit Widyonindito, kemarin.

//Deklarasi Anti-Tawuran Tak Sekadar Tanda Tangan//

MAGELANG UTARA – Momen puncak acara Milenial Road Safety Festival yang digelar Satlantas Polres Magelang Kota diwarnai dengan deklarasi antitawuran oleh para pelajar se-Kota Magelang. Puluhan pelajar dari Kota dan Kabupaten Magelang pun berkumpul dan menandatangani deklarasi tersebut bersamaan dengan acara Car Free Day (CFD) di kompleks Lapangan Rindam IV/Diponegoro, Kota Magelang, Minggu (24/2).

Turut hadir pada kesempatan itu, Kapolres Magelang Kota AKBP Idham Mahdi, Walikota Magelang, Sigit Widyonindito beserta wakilnya Windarti Agustina, anggota Forpimda, perwakilan sekolah-sekolah, dan segenap undangan lainnya. Walikota mengatakan mendukung penuh deklarasi antitawuran oleh para pelajar ini.

”Terus terang, saya prihatin masih ada anak-anak yang tawuran, padahal dari rumah orangtua sudah mendoakan untuk menjadi orang yang sukses dan berhasil. Saya harap deklarasi ini penting sebagai komitmen para pelajar untuk tidak lagi tawuran,” kata Sigit.

Tak hanya menghindari keterlibatan tawuran, Sigit juga mengajak para pelajar untuk tertib berlalu lintas dan mengutamakan keselamatan berkendara, sehingga tidak terjadi kecelakaan lalu lintas. Momen festival keselamatan berkendara bagi kaum milenial ini dinilai sesuai untuk menyadarkan para pelajar terkait pentingnya patuh tata tertib lalu lintas.

”Dengan adanya kegiatan ini  diharapakan kesadaran anak-anak millenial dalam berlalu lintas di Kota Magelang semakin meningkat, sehingga tidak ada lagi kecelakaan lalu lintas,” katanya.

Menurut Sigit, pemerintah sejauh ini sudah berupaya maksimal untuk menghindari mencegah perilaku negatif kalangan remaja, yakni tawuran maupun pelanggaran lalu lintas, karena dapat mencoreng citra positif Kota Sejuta Bunga.

Aksi nyata pemerintahannya, lanjut Sigit, di antaranya dengan menerjunkan instansi Pemkot Magelang ke sekolah-sekolah dengan cara sosialisasi wawasan kebangsaan dan pembinaan, bahkan upaya itu juga dibantu aparat TNI/Polri.

”Pelatihan wawasan kebangsaan dari Kesbangpolinmas, ada juga dari Satpol PP, TNI/Polri sudah maksimal semuanya untuk mencegah tawuran,” tandasnya.

Ia pun mengaku geram dengan ulah para pelajar yang sampai saat ini masih memiliki kebiasaan negatif tawuran antarpelajar. Orang nomor satu di Kota Jasa itupun meminta aparat kepolisian untuk memberi tindakan tegas para pelajar yang terbukti melakukan tindakan kriminalitas tersebut.

”Kasihan orangtuanya lah, sudah capek-capek biaya sekolah, tapi tiba di sekolah malah dibuat ajang gaya-gayaan, tindakan negatif, tawuran, itu tidak mencerminkan budaya kita,” katanya.

Dia berharap, deklarasi ini tak sekadar membubuhkan tanda tangan dari para pelajar. Lebih dari itu, para pelajar harus menganggap bahwa deklarasi menjadi sebuah tanggung jawab dan memiliki konsekuensi.

”Jangan hanya secara fisik tanda tangan, tapi dari hati anak-anak kita juga harus muncul agar membenci tawuran, tidak terlibat lagi, dan bahkan bisa menjadi pencegah ketika ketegangan antarsiswa mulai terjadi. Intinya, semua pihak harus menolak tawuran, pemerintah, masyarakat, dan tentunya pelajar itu sendiri,” tandasnya. (wid)