Bangun Sinergitas Warga, Pemerintah, dan Pers

Bangun Sinergitas Warga, Pemerintah, dan Pers
KIRAB. Warga dan budayawan yang tergabung dalam Padepokan Gunung Tidar, serta sejumlah awak media, mengikuti kirab Hari Pers Nasional di Kampung Potrosaran, Potrobangsan, Magelang Utara, kemarin (7/2).

MAGELANG UTARA – Pemkot Magelang memberi apresiasi kepada jajaran pers dan budayawan yang mampu berkolaborasi dalam merayakan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2019. Sajian pentas seni dan kirab budaya yang diprakarsai Padepokan Gunung Tidar dirasa menjadi manifestasi kemesraan antara pemerintah, masyarakat, budayawan, dan insan pers di Kota Magelang.

Hal itu dikatakan Walikota Magelang, Sigit Widyonindito dalam sambutan yang dibacakan Kabag Humas Setda Kota Magelang, Al Idris di sela peringatan HPN di Kampung Potrosaran, Potrobangsan, Magelang Utara, Kamis (7/2).

”Hari Pers yang dihelat setiap 9 Februari adalah momentum yang sangat berharga untuk memperkuat sinergi baik di antara komponen pers, maupun antara pers dengan masyarakat dan pemerintah,” katanya.

Idris menjelaskan, sinergitas di antara pers, masyarakat, dan pemerintah selama ini telah mendorong efektivitas pembangunan. Pasalnya, pers dan media massa di Kota Sejuta Bunga, katanya, dianggap telah menunjukkan perannya sebagai pengawas sekaligus komunikator.

”Kebijakan pemerintah yang pro poorm, pro job, dan pro growth bisa efektif karena semua pihak menjalankan fungsi pengawasan, termasuk rekan-rekan pers dan media massa,” ucapnya.

Dia berharap, media massa tetap mempertahankan idealisme sebagai lembaga sosial sekaligus melakukan sosial kontrol dengan menyatakan pendapat secara bebas namun tetap berprinsip pada norma-norma yang berlaku.

Memang, konsistensi menjadi kunci selalu adanya peringatan HPN yang digagas ES Wibowo bersama segenap warga Kampung Potrosaran Kota Magelang ini. Sudah lima tahun, ES Wibowo dkk, selalu mengadakan perayaan HPN.

”Kami bukan wartawan, tapi kami peduli dan mengapresiasi kerja wartawan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan pemberitaan-pemberitaannya,” ujar Bowo.

Budayawan ini menjelaskan, dalam tema kali ini dirinya mengangkat Dharma Warta berlatar belakang kekayaan wartawan berupa berita. Wartawan, katanya, memiliki kesadaran menyampaikan berita-berita atau pewartaan kepada masyarakat luas.

“Wartawan itu menyampaikan berita secara cuma-cuma. Ini adalah dharmanya seorang pewarta. Maka, kami sebagai pembaca, penonton, pemirsa memiliki kesadaran memberikan penghargaan kepada pers atas dharmanya selama ini,” jelasnya.

Turut hadir pada kesempatan itu, KH Yusuf Khudori alias Gus Yusuf. Gus Yusuf pun berkesempatan menyampaikan orasinya terkait pers.

”Kita pahami bersama bahwa peran media luar biasa, sehingga ada istilah siapa menguasai informasi hari ini maka dialah yang akan menguasai dunia. Untuk itu, media sebagai pilar demokrasi diharapkan semakin kokoh bersama rakyat dan turut membangun Indonesia ke depan yang sehat, waras, dan berkebudayaan,” paparnya.

Pengasuh PP Api Tegalrejo Magelang ini pun menyinggung betapa bahaya dan rusaknya kalau informasi hari ini dipenuhi hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian, maka yang ada adalah kehancuran.

”Saya harap teman-teman media arus utama dan medsos betul-betul bijak  bermedia. Khususnya media sosial berhati-hati dalam menggunakan medianya agar apa yang dimediakan membawa manfaat dan maslahat. Kita harus bersama-sama memerangi berita bohong,” ungkapnya. (wid)