103 Titik Longsor di Wonosobo, Kerugian Ditaksir Rp2 M

MONITORING. Bupati didampingi BPBD, DPUPR, Diskominfo, Prokompim, Kecamatan Garung, TNI, POLRI melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di beberapa lokasi terjadinya bencana, Jumat (18/3).
MONITORING. Bupati didampingi BPBD, DPUPR, Diskominfo, Prokompim, Kecamatan Garung, TNI, POLRI melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di beberapa lokasi terjadinya bencana, Jumat (18/3).

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM Hujan deras yang terjadi sejak sepekan di Wonosobo telah menimbulkan longsor dan banjir di 7 kecamatan. Terdapat 103 titik longsor di 7 kecamatan, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp2 miliar.

“Dalam sepekan terjadi hujan deras, muncul 103 titik longsor di 7 kecamatan di kabupaten wonosobo,” ungkap Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonosobo, Bambang Triyono kemarin saat mendampingi Bupati Wonosobo melakukan monitoring bencana di Desa Tegalsari dan Desa Larangan Lor Kecamatan Garung.

Menurutnya, sejak 9 Maret sampai dengan 17 Maret 2022, tujuh kecamatan yang  mengalami longsor diantaranya Kecamatan Kepil, Sapuran, Kalibawang, Kaliwiro, Wadaslintang, Mojotengah, dan Garung.

“Titik longsor terbanyak terjadi di Kecamatan Kalibawang, dimana setiap harinya terjadi 8 titik longsor,” terangnya.

Longsor di 7 kecamatan tersebut mengakibatkan kerusakan terhadap fasilitas umum seperti jalan, jembatan, saluran air. Selain itu puluhan rumah rusak dengan tingkat yang berbeda beda, lahan sawah, kolam dan ladang juga mengalami kerusakan.

“Saat ini kami masih melakukan pendataan dan pemetaan terhadap kondisi kerusakan tersebut, pasalnya setiap hari relawan di kecamatan dan desa masih memberikan laporan terkait munculnya longsor,” bebernya.

Sementara itu, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan dari monitoring yang dilakukan di dua desa di Kecamatan Garung, banyak ditemukan kerusakan rumah, jembatan, jalan dan area pertanian dampak dari longsor dan hujan deras.

“Dari monitoring yang kami lakukan dalam satu desa muncul banyak titik longsor yang merusak sejumlah rumah, kandang ternak, jalan dan jembatan,” katanya.

Menurutnya, menyikapi banyaknya titik longsor akibat hujan deras di Wonosobo, pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk waspada tapi tidak panik. Diakui bahwa kondisi Kabupaten Wonosobo memang berada di kawasan pegunungan, sehingga ketika hujan memang berpotensi terjadi longsor.

“Wonosobo merupakan daerah yang rentan terhadap bencana alam, karena tanahnya yang sangat labil, maka ini harus menjadi perhatian kita bersama bagaimana mengoptimalkan kesiapsiagaan bencana melalui pembentukan relawan di 265 desa atau kelurahan, dan setiap desa minimal mempunyai 5 tenaga relawan,” ucapnya.

Afif juga mengingatkan, perlunya kesadaran bersama guna menjaga kelestarian alam dimulai dari kegiatan sederhana yakni tidak mengotori sungai dengan sampah, tidak membuang sampah di sungai, serta tidak membangun rumah di pinggiran kali.(gus)