1.076 Sapi di Wonosobo Terpapar PMK, Jelang Idul Adha Pasar Hewan Lengang

SEPI. Mendekati hari lebaran Idul Adha kondisi pasar hewan di Wonolelo justru sepi.
SEPI. Mendekati hari lebaran Idul Adha kondisi pasar hewan di Wonolelo justru sepi.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Menjelang lebaran Idul Adha, pasar hewan di Wonosobo justru terpantau lengang. Merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) diduga menjadi penyebab utama. Pasalnya, di Wonosobo setidaknya terdapat ribuan sapi terpapar virus tersebut.

“Pasar hewan tidak ditutup, tapi kondisinya lengang. Banyak pedagang yang enggan membawa ternaknya ke pasar, takut terpapar. Bahkan pasar dadakan di pinggir jalan juga saat ini tidak kami temukan,” ungkap Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dispaperkan Wonosobo, dr Sidik Driyono, kemarin.

Menurutnya, saat ini peternak menghadapi kondisi sulit. Jika tahun lalu hanya menghadapi virus covid 19, namun tahun ini ditambah dengan virus PMK yang penyebarannya bagi hewan cukup signifikan.

“Kabupaten  Wonosobo juga sekarang sudah ditetapkan menjadi daerah wabah bersama 34 kabupaten kota di Jawa Tengah,” terangnya.

Disebutkan dari laporan yang telah masuk ke dinasnya. Sedikitnya ada 1.199 ekor hewan yang telah teridentifikasi suspect virus PMK.

Dari jumlah tersebut, hewan ruminansia jenis sapi menjadi yang paling dominan terserang virus. Dengan jumlah 1067 ekor sapi yang diduga terserang virus, 30 kerbau, kambing 63 dan domba 39 ekor.

“Yang terserang virus didominasi sapi. Sementara yang tidak terlapor pasti juga ada di luar sana. Karena seluruh wilayah kecamatan itu sudah terjangkit semua,” ungkapnya.

Pihaknya memastikan jika hewan ternak yang sakit itu tidak menular ke manusia. Meski harus disembelih, daging dari hewan tersebut tetap aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Namun, saat kurban nanti disarankan untuk dipisah, sebab perlu diperlakukan khusus.

“Ngak ada penularan ke manusia, tapi harus dipisahkan antara hewan yang sehat dan sakit. Karena memang butuh perlakuan khusus bagi yang sakit. Setelah dipotong harus direbus terlebih dahulu sebelum dicuci. Ini agar kita lebih aman saat dikonsumsi,” katanya.

Sementara itu, dari pantuan yang dilakukan di pasar hewan di Wonolelo Kecamatan Wonosobo, jumlah pedagang yang menjual hewan kurban terlihat sangat sedikit. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Para pedagang mengaku khawatir dengan virus PMK.

“Banyak yang takut tertular. Jadi memilih di kandang saja. Penawaran bisa dilakukan langsung ke pemilik,“ kata terang Sirwanto salah satu pedagang sapi di Pasar Hewan Wonolelo saat ditemui di lokasi, Senin (4/7).

Menurutnya, selama munculnya virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Wonosobo itu jumlah hewan yang diperdagangkan mengalami penurunan signifikan.

Sebab jika dibandingkan kondisi sebelum adanya virus, di pasar tersebut selalu dipenuhi hewan ternak yang diperjualbelikan.

“Biasanya ada 20-30 sapi setiap bukaan pasaran. Sekarang paling banyak sekitar 5 ekor saja,” ujarnya. (gus)