Waisak 2019, Berharap Bawa Kebahagiaan bagi Seluruh Umat Manusia

0
120
Waisak 2019
PROSESI. Rangkaian prosesi perayaan Waisak Nasional umat Buddha Indonesia 2563 BE/2019, prosesi Pindapatta, arak-arakan Puja Bakti Waisak dan detik-detik Waisak Minggu (19/5) pukul 04.11 WIB di pelataran Candi Borobudur.

BOROBUDUR – Umat Buddha hadir di pelataran Candi Borobudur melakukan prosesi meditasi serta ritual doa bersama para bhikku sangha dalam detik-detik perayaan Waisak Nasional umat Buddha Indonesia 2563 BE/2019, Sabtu (18/5). Kesempatan ini dipimpin Bhikku/Bante Wongshin Labhiko Mahatera.

Ketua Umum DPP Walubi, Hartati Murdaya mengatakan, Waisak kali ini diharapkan umat Buddha Indonesia dapat berhasil dan bisa berguna bagi sesama, serta melawan sang ego, serta rasa kebencian.

“Semoga di hari Tri Suci ini dapat membawa kebahagiaan bagi seluruh umat manusia terlebih bagi bangsa Indonesia,” ucap Hartati.

Pada malam puncak peringatan Waisak 2019, juga dihadiri oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

“Kita harus menghargai kebangsaan kita dengan kebhinekaan kita ini. Perbedaan bukanlah suatu kelemahan, melainkan adalah kekuatan untuk membangun bangsa yang lebih sejahtera,” ungkap Lukman Hakim Safudin.

Usai melaksanakan peringatan Waisak di area Zona 1 Candi Borobudur tersebut, sampailah pada acara detik-detik pelepasan lampion. Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah bahkan luar negeri memadati lokasi Taman Lumbini. Ribuan lampion pun dilepaskan ke langit sebagai simbol doa perdamaian dari para umat.

Adapun detik-detik Waisak kali ini dilangsungkan pada Minggu (19/5) pukul 04.11 WIB di pelataran Candi Borobudur Jawa Tengah.

Sebelumnya dilaksanakan prosesi Pindapata , dimana tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya yang biasanya selalu dilakukan di kawasan pertokoan Pecinan Kota Magelang. Kali ini umat Buddha yang datang dari penjuru nusantara mengikuti prosesi Pindapata dengan membawa sedekah di kompleks Candi Mendut.

Menurut Biksu Sangha Theravada, Bante Kamsai Tsumano Mahatera, hal itu bertujuan agar prosesi Pindapatta bisa berlangsung lebih khidmat.

“Kita berniat bahwa semua candi dapat berkah termasuk kepada semua makhluk. Karena di setiap candi itu terdapat para dewata yang juga butuh kebahagiaan dan bahagia jika melihat kita para makhluk berbuat baik. Sehingga kebahagiaan ini kita bagi rata,” ungkap Bante Kamsai di sela prosesi Pindapata.

Ritual ini merupakan tradisi meminta sedekah atau mengumpulkan dana dan bahan makanan dari para umat yang dilakukan oleh para Biksu sejak ribuan tahun lalu. Berderma saat Pindapata juga merupakan salah satu cara mengamalkan ajaran Budha yakni berdana sebagai obat segala penyakit, salah satunya miskin.

“Sebelum jaka perbuatan dan perkataan, kita persiapkan diri untuk berbuat baik yang pertama kali itu melepas keberkatan. Jadi kita berdarma itu merupakan latihan agar kita tidak miskin. Berderma juga menjadi obat untuk mengobati penyakit miskin,” jelasnya.

Efek dari berderma dengan ikhlas, menurut Bante Kamsai akan membuahkan kebahagiaan dalam kehidupan.

“Kami sebagai anggota Shangha bahagia apalagi yang bersedekah dengan senyum. Karena yang lampau dan yang akan datang akan ada tangga kesucian perdana,” jelas Bante Kamsai.

Usai menjalani prosesi Pindapatta, para Biksu dan umat Budha melanjutkan prosesi Puja Bakti di Candi Mendut untuk kemudian mengikuti prosesi arak-arakan menuju Candi Borobudur Sabtu (18/5) siang. Proses arak-arakan itu membawa berbagai sarana Puja Bakti Waisak, seperti Air Berkah dan Api Darma.(cha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here