TPA Pasar Kebonpolo Sulap Sampah jadi Rupiah

0
104
TPA Pasar Kebonpolo Sulap Sampah jadi Rupiah
SAMPAH. Seorang petugas kebersihan mengumpulkan sampah-sampah yang ada di Pasar Kebonpolo untuk diolah menjadi pupuk organik.

MAGELANG UTARA – Konsistensi petugas tempat pengelolaan akhir (TPA) Pasar Kebonpolo Kota Magelang patut diacungi jempol. Meski sudah dibentuk sejak empat tahun lalu, rupanya TPA yang berada di area pasar itu masih eksis sampai sekarang. Pengolahan sampah pasar menjadi pupuk kompos kering dan cair itu bahkan terus berkembang dan bisa dipasarkan.

Salah satu petugas TPA Pasar Kebonpolo, Suryanto menjelaskan bahwa sejak didirikan pada tahun 2015 silam, pengolahan sampah sampai sekarang terus dikembangkan. Padahal awalnya, keberadaan TPA ini hanya untuk memenangkan sebuah lomba pasar tingkat provinsi dan nasional.

”Sekarang terus berkembang. Sampah-sampah beraneka macam, baik itu organik maupun anorganik sekarang sudah bisa dimanfaatkan menjadi pupuk yang bernilai jual,” kata Suryanto, Minggu (3/2).

Ia mengatakan bahwa Pasar Kebonpolo menjadi pioner adanya TPA pasar. Selanjutnya, temuan ini diikuti pasar lain seperti Pasar Rejowinangun Kota Magelang.

Menurut dia, hadirnya tempat pengolahan sampah mandiri ini sangat bermanfaat baik bagi lingkungan pasar maupun Kota Magelang. Apalagi, di tempat ini mampu memproduksi pupuk kompos kering dan cair yang bisa dijual dan menghasilkan pendapatan.

”Untuk daerah Kota Magelang tentunya sangat memberi manfaatkan karena adanya TPA ini praktis suplai sampah ke TPSA Banyuurip berkurang, karena sampah dari pasar bisa diolah sendiri. Apalagi sekarang sudah overload,” katanya.

Dia menjelaskan, ada dua jenis kompos yang dihasilkan dari tempat pengolahan sampah ini, yakni kering dan cair. Kompos kering berasal dari sampah organik dan anorganik yang dikumpulkan petugas. Kompos cair berasal dari limbah bumbu dapur, limbah air kelapa, limbah buah-buahan, dan limbah daging.

Proses kompos kering dari sampah dipilah-pilah antara organik dan anorganik, lalu digiling dan dicampur ramuan bakteri tetes tebu, bekatul, dan arang. Selanjutnya dimasukkan ke dalam bak yang disediakan untuk ditimbun.

”Setiap seminggu sekali diaduk agar tidak muncul jamur. Berjalan satu bulan dipindah lagi ke bak kedua dan satu minggu berikutnya baru bisa dikemas,” tuturnya.

Untuk proses kompos cair, kata Suryanto, air dari limbah daging maupun dari pembersihan lingkungan dialirkan ke penampungan pembuatan limbah sampah. Setelah itu limbah cair dirotasikan di mesin dan dicampur beberapa kandungan untuk membuat limbah tidak bau dan didiamkan selama sebulan.

”Proses kompos cair lebih lama, karena tiap hari ada perputaran dan harus didiamkan selama sebulan. Setelah itu dipindahkan ke bak yang lain dan didiamkan selama setengah bulan sebelum bisa diambil hasilnya,” jelasnya.

Irwanto, petugas lain menambahkan, setelah pengolahan selesai, kedua jenis pupuk tersebut dijual dengan harga terjangkau. Pupuk kering dijual dengan harga Rp10.000 per bungkus dan pupuk cair Rp10.000 per botol. Setiap bulan, setidaknya 5-10 bungkus dan botol pupuk kering maupun cair  terjual ke masyarakat, baik warga pasar sendiri maupun umum.

”Tadinya kami membuat pupuk kering dan pupuk cair ini untuk lingkungan pasar saja. Karena banyak yang minat, akhirnya kita jual ke masyarakat umum. Lumayan pemasukannya untuk operasional kita,” ungkapnya.

Menurutnya, pupuk kompos hasil olahan ini memiliki banyak manfaat. Seperti limbah buah-buahan untuk merangsang percepatan pertumbuhan, sedangkan limbah bumbu dapur untuk membunuh serangga di tanaman.

”Sejauh ini kita masih konsisten mengolah sampah ini menjadi pupuk yang bermanfaat. Harapannya ke depan makin meningkat produksinya dan kian banyak yang menerima manfaatnya,” ujarnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here