Sentuhan dan Kreativitas Anak Muda Menjadikannya Tetap Eksis

0
94

//Potensi Industri Kreatif Wayang dari Bantaran Bengawan Solo//

Wayang kulit merupakan karya seni adiluhung warisan nenek moyang di Jawa yang mulai dilupakan karena tergerus kemajuan zaman. Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menjadi salah satu kampung kreatif di Indonesia yang hingga kini terus berusaha melestarikan wayang kulit sebagai karya seni yang memiliki berbagai keunikan. Sebuah dukuh yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo itu dikenal sebagai ‘Kampung Wayang’ mengingat sebagian besar warganya menjadi pengrajin wayang kulit.

JOKO SUROSO

MEMASUKI Dukuh Butuh, awalnya tak memunculkan kesan sebagai Kampung Wayang. Tak ada gapura atau ikon khusus yang dibangun, kecuali petunjuk dari papan kayu dipasang di pertigaan menuju kampung. Namun begitu menyusuri jalan kampung yang tak begitu luas, terdengar suara tak..tuk…tak…tuk..yang saling bersahutan. Suara-suara itu berasal dari sejumlah rumah yang para penghuninya beraktivitas membuat wayang kulit. Tangan kanan  memegang palu dari kayu dan tangan kiri memegang tatah yang terbuat dari besi atau baja. Tatah diletakkan di atas kulit kerbau yang sudah diberi pola, kemudian dipukul pelan dengan palu untuk mulai menyungging bentuk wayang seperti yang diinginkan.

Aktivitas seperti itu sudah dilakukan secara turun-temurun sejak puluhan tahun silam. Saat ini, tercatat 90-an pengrajin masih setia menekuni profesi yang diwariskan oleh kakek moyang mereka. Sudah ratusan ribu, bahkan jutaan wayang kulit yang telah dibuat oleh para pengrajin di Kampung Wayang tersebut.

Sebagian besar warga di kampung tersebut mengandalkan perekonomian keluarga dari hasil pembuatan wayang kulit. Minimnya jumlah pengrajin wayang kulit yang masih bertahan di negeri ini justru menjadi berkah bagi mereka. Pesanan wayang kulit dengan aneka bentuk dan ukuran terus berdatangan. Tak hanya menguasai pasar lokal, sejumlah wayang kulit dari Butuh, bahkan mulai merambah pasar internasional. Sejumlah kolektor dari mancanegara pernah ada yang datang untuk memesan langsung pada pengrajin.

Dukuh Butuh, sudah tak asing lagi bagi para dalang, yang membutuhkan wayang kulit sebagai media utama untuk menggelar pementasan. Sejumlah dalang kondang, seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, Ki Purbo Asmoro, Ki Enthus Sismono (almarhum), Ki Bayu Aji dan dalang lainnya pernah memesan wayang kulit dari pengrajin setempat. Bahkan, beberapa diantaranya sudah mempercayakan kebutuhan wayang kulit pada mereka, mulai dari pembuatan hingga perbaikan bila ada wayang yang rusak. “Dalang itu, kalau memesan wayang biasanya ‘ngarani’ (sudah menentukan). Mereka juga memilih pengrajin tertentu yang dianggap bisa melayani permintaannya,” kata Sarman Ahmad Daroni (57), pengrajin wayang kulit setempat saat ditemui di rumahnya.

Saat itu, Daroni sedang menyelesaikan pesanan souvenir wayang kulit dari Group Astra. Di rumahnya masih tersimpan banyak wayang yang sudah dikerjakan, sebagian sudah jadi dan siap dikirim ke pemesan, sebagian lagi belum selesai.

Daroni mengaku pernah mendapat pesanan wayang dari sejumlah dalang kondang, seperti Ki Purba Asmoro, Ki Rudi Gareng (Blitar) dan beberapa dalang di Sumatra, yang hingga kini masih ada yang memesan wayang buatanya. Mereka biasanya sudah menentukan ukuran, corak hingga gapit (pegangan wayang) seperti yang diinginkan. Hal itu tentu akan mempengaruhi harga, semakin rumit coraknya, semakin baik bahan yang digunakan, tentu harganya semakin mahal. “Harganya tidak sama, tergantung permintaan mereka seperti apa. Kalau dalang biasanya memesan satu kotak, harganya berkisar Rp200 juta hingga Rp500 juta. Satu kotak isinya 150 hingga 250 wayang, tergantung permintaan. Tapi ada juga yang memesan satuan, harganya berkisar ratusan ribu hingga jutaan,  tergantung tokoh wayang yang dipesan,” ujarnya.

Daroni merupakan generasi kedua pengrajin wayang di kampung tersebut. Sebelum memutuskan untuk pulang kampung dan menekuni profesi sebagai pengrajin wayang kulit pada tahun 90-an, Bapak dengan tiga anak ini sudah belajar sekaligus bekerja membuat wayang kulit di sejumlah pengrajin di wilayah Sukoharjo, Solo hingga Jakarta. “Kurang lebih 10 tahun, saya bekerja ikut orang, akhirnya saya memutuskan pulang kampung untuk membuka usaha di rumah. Waktu itu, pengrajin wayang di sini (Butuh) belum begitu banyak,” ungkapnya.

Daroni beserta para pengrajin lain yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (Kube) Bima berusaha agar regenerasi pembuatan wayang tidak terputus. Mereka tak ingin usaha kerajinan wayang kulit yang telah dirintis oleh pendahulu mereka punah gara-gara tak ada generasi penerusnya.

Daroni pun mengawali mengajari ketiga anaknya membuat wayang sejak kecil. Awalnya, ketiga anak itu membantunya membuat wayang untuk melayani pesanan dari sejumlah daerah. Namun, dalam perjalanannya, tinggal anak bungsunya yang hingga kini masih setia membantunya membuat wayang. “Semua anak saya bisa membuat wayang, bahkan istri saya, jago dalam mewarnai wayang. Kini saya mulai mengajari salah satu cucu saya, baru kelas 2 SD. Memang harus dari kecil, kalau sudah dewasa susah,” ungkapnya.

Selain itu, pria yang dipercaya menjadi bendara Kube Bima itu pun berhasil mengajari 15 orang, yang kini menjadi pengrajin di bawah binaanya. Sebelum bisa mandiri, mereka membantu mengerjakan pesanannya dengan sistem bagi hasil. “Biasanya mereka hanya mengerjakan mentahannya, kemudian finishing saya sendiri. Hasilnya lumayan, kalau di rata-rata perbulan bisa mencapai Rp3 juta per orang,” imbuhnya.

Daroni berharap apa yang dilakukan terhadap anak-anaknya bisa dicontoh oleh pengrajin lain sehingga regenerasi industri wayang kulit di Butuh tidak terputus. Sudah saatnya para pengrajin menyiapkan anak-anaknya untuk meneruskan usaha orang tuannya. “Bila masing-masing keluarga pengrajin, menyiapkan salah satu anaknya saja, untuk meneruskan usahanya, saya yakin kerajinan wayang kulit di Butuh akan tetap langgeng,” ungkapnya.

Agar tetap bisa eksis, para pengrajin pun tak hanya mengandalkan order dari para dalang yang tidak tentu, tapi mereka juga melayani pesanan dari pedagang, kolektor, instansi pemerintah, swasta, sekolah maupun yang lain. Bahkan pesanan yang paling banyak justru dari pedagang karena mereka sudah memiliki jaringan yang luas. “Yang rutin, justru pesanan dari pedagang besar. Mungkin untungnya tidak begitu banyak tapi pengrajin perlu hidup agar bisa bertahan,” terang Pendi Istakanudin (29), putra bungsu Daroni yang kini serius menekuni profesi sebagai pengrajin wayang kulit.

Selain sebagai ladang bisnis, lanjut alumni STMIK di Solo, keberadaan Kampung Wayang itu juga menjadi pusat studi bagi  siapa pun yang ingin belajar tentang wayang, seperti yang dilakukan oleh siswa, mahasiswa maupun pendidik di sejumlah sekolah seni di wilayah Solo. “Dukuh Butuh, sebenarnya sudah tak asing lagi bagi siswa SMKI Solo maupun mahasiswa ISI Solo, juga guru dan dosen mereka. Sudah berulangkali, mereka datang ke sini untuk belajar tentang wayang,” terang dia yang mengaku sudah berulangkali menemani mereka saat kunjungan di kampungnya.

Berkat usaha kerajinan wayang kulit, perekonomian warga Butuh kian membaik. Penghasilan dari proses kreatif mengolah kulit kerbau menjadi hasil karya yang unik, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meski masih mengandalkan rumah khas kampung dengan halaman yang cukup luas,  namun terlihat lebih baik dan tertata. Ini sebagai penanda kalau tingkat kesejahteraan warga sekitar terus meningkat.

Kampung Berseri Astra

Keunikan yang dimiliki oleh Kampung Wayang Butuh telah mengantarkan dusun yang berada di pojok timur wilayah Kabupaten Klaten itu terpilih menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) yang ke-74 se Indonesia atau yang ke-2 di Jawa Tengah, setelah Desa Tanon, Kabupaten Semarang. Pencanangan sebagai KBA sudah dilakukan oleh perwakilan Astra pada 11 Agustus 2018.

Sesuai dengan komitmen, melalui dana CSR, Astra akan menggelontarkan dana untuk membiayai program-program sesuai dengan potensi yang dimiliki. Setiap KBA mempunyai karakter yang berbeda, namun harus mencakup 4 pilar, yakni kesehatan, lingkungan, pendidikan dan kewirausahaan.

Kini, para pengrajin di Butuh sedang mempersiapkan sejumlah program untuk mengangkat potensi sebagai satu-satunya KBA di Kabupaten Klaten. Diantaranya, menyiapkan pembuatan gapura sebagai ikon Kampung Wayang di jalan utama masuk kampung. Memberikan beasiswa pendidikan pada warga yang kurang mampu. Juga memberikan pelatihan pembuatan wayang kulit, administrasi hingga marketing, serta program-program lain seperti yang disyaratkan oleh Astra. “Selain itu, membuat bank sampah untuk lingkungan dan Posyandu manula untuk kesehatan,” terang Pendi.

Dia yakin program yang disusun tersebut mampu mengangkat potensi Butuh sebagai Kampung Wayang. Tak hanya sekedar menyelamatkan seni budaya warisan nenek moyang, industri wayang kulit diharapkan bisa menjadi pusat studi dan destinasi wisata yang dikunjungi banyak orang sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan warga. “Ke depan, kami harapkan, Butuh bisa menjadi destinasi wisata yang menjanjikan. Kini, sedang dirancang paket wisata seperti apa yang cocok,” ungkap Pendi.

Pendi adalah salah satu pemuda di kampung tersebut yang merasa terpanggil untuk ‘menyelamatkan’ kerajinan wayang kulit yang mulai ditinggalkan oleh anak muda sebayany. Dia mulai khawatir dengan regenerasi perajin wayang kulit lantaran banyak anak muda yang lebih memilih bekerja di pabrik, dengan jam kerja dan pendapatan yang pasti.  “Orang Butuh, termasuk saya dulu, lebih condong memilih bekerja di pabrik, dari pada menjadi pengrajin  wayang kulit. Empat tahun kerja di pabrik sampai lulus kuliah, begitu lulus saya milih kerja di marketing,” terangnya.

Saat bekerja sebagai marketing, Pendi akhirnya sadar. Kemudian memutuskan mengikuti jejak ayahnya menjadi pengrajin wayang kulit. Keputusannya itu, awalnya cukup berat. Sebab, banyak godaan dari teman-temannya untuk bekerja di pabrik dibandingkan menjadi pengrajin wayang kulit.

Setelah terjun membantu orang tuanya, Pendi menjadi semakin paham. Dia ikut merasakan bagaimana cara membuat  pola hingga pewarnaan wayang yang baik, memilih bahan baku hingga melayani konsumen dengan berbagai karakter dan keinginan yang tak sama. “Saya jadi bisa belajar banyak dari wayang. Kalau menjadi pengrajin wayang, memang jam kerjanya tak menentu. Penghasilannya pun tak selalu sama. Tapi kalau pas banyak pesanan, kadang harus kerja lembur tapi hasilnya juga lumayan banyak. Misalnya pas ada pesanan wayang satu kotak, hasilnya bisa ratusan juta,” terang dia.

Menurut Pendi, kalau hanya sekedar membuat wayang tidaklah sulit. Yang sulit itu memunculkan seni, yang akan keluar bila pembuatan wayang dilakukan dengan rasa cinta dan ketulusan hati. Kalau seni tak keluar, maka hasilnya kurang memuaskan. Bisa jadi, akan ditolak oleh pelanggan karena tak sesuai permintaan

“Alhamdulillah, hingga saat ini, belum ada satupun pelanggan yang membeli wayang kulit di tempatnya komplain karena wayang buatannya jelek,” tandasnya.

Meski usaha para pengrajin mengandalkan order dari para pelanggan, kata Pendi, tak ada persaingan bisnis diantara mereka. Justru sebaliknya, mereka saling membantu bila salah satu perajin mendapatkan order banyak. “Tak ada persaingan di sini, walaupun masing-masing sudah mempunyai pelanggan, tapi kalau ada pengrajin yang mendapatkan order banyak dan waktunya mepet, biasanya order dibagi dengan pengrajin lain. Kami di sini saling bantu satu sama lain,” ujar dia.

Pendi mencontohkan, beberapa waktu lalu, pihaknya mendapatkan pesanan souvenir wayang dari Group Astra. “Jumlahnya tidak seberapa, tapi kami bagi dengan pengrajin lain agar ikut merasakan,” imbuhnya.

Kepala Desa Sidowarno Sukarno sangat mendukung program KBA yang digulirkan oleh Group Astra. Dia optimis berbagai program yang telah disiapkan Astra, seperti promosi, pembuatan gapura hingga bantuan modal usaha bisa meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendorong agar produk wayang kulit dari perajin di Butuh dikenal luas, sampai internasional. “Ke depan, Astra  juga akan memajang berbagai produk kerajinan warga Butuh, seperti wayang dan beragam souvenir di showroom-showroom Astra. Melalui program itu, kami berharap industri kreatif di Sidowarno bisa maju pesat,” ungkapnya.

Sukarno berharap pihak Astra Group bisa memberikan bantuan mobil ambulance Siaga Desa dari dana CSR. Sebab, kebutuhan mobil yang akan digunakan membantu warga yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit cukup mendesak. “Beberapa kali terjadi, warga meninggal dunia karena terlambat dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.

Menurutnya, desa yang dipimpinnya itu tergolong unik. Sebab berbagai industri kreatif ada di desa yang terdiri dari 8 dusun tersebut. Selain kerajinan wayang atau tatah sumbing, ada juga bordir pakaian,  pembuatan pakaian manten, ukir kayu dan lainnya. “Selain tatah sumbing (wayang), di Sidowarno itu ada beberapa pengrajin pakaian manten, konsumenya hingga para pejabat negara, termasuk Presiden SBY, waktu mantu Mas Agus Yudhoyono memesan pakain dari pengrajin di sini (Sidowarno). Juga rumahnya Mas Ahmad Dani dan Capres Prabowo, itu ukiran rumahnya yang mengerjakan orang sini juga,” terang dia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here