Mancing Rekatkan Kerukunan Pasca Pemilu

0
57
Pasca pelakasanaan Pemilu 2019
BERSAMA. Warga Dusun Kuncen Kecamatan Badran mancing bersama disepanjang selokan desa setempat, Sabtu (19/4).

TEMANGGUNG – Pasca pelakasanaan Pemilu 2019, masyarakat Dusun Kuncen Desa Badran Kecamatan Kranggan menggelar acara mancing bersama. Acara ini dilakukan untuk semakin merekatkan kerukunan dan kebersamaan masyarakat usai pesta demokrasi.

Ketua Penyelenggara ‘Mancing Bareng Kuncen Seduluran’ Hudha Sungsang Purwito mengatakan, mancing bersama ini inisiatif masyarakat. Dengan harapan kerukunan yang selama ini sudah terjalin dengan baik bisa semakin kuat dan tambah rekat.

“Tidak ada maksud apa-apa, kemarin masyarakat sudah melaksanakan pesta demokrasi. Tentunya dalam pesta itu ada saling beda pilihan, nah dengan momen ini kami satukan kembali sebagai masyarakat seperti sedia kala,” tuturnya, Sabtu (19/4).

Mancing bersama yang diadakan diselokan yang membelah desa tersebut, dipasang sebagai latar belakang kegiatan ini gambar karikatur Jokowi-Prabowo berpelukan. Selain itu juga ada panggung mini didirikan untuk menghibur warga yang hadir dengan iringan musik akustik dari ‘Sedulur Nada’,

“Kami menggelar pesta rakyat, mancing bareng, sebagai ajang rekonsiliasi arus bawah pascapemilu. Kami tak ingin, karena kemarin kita berbeda pilihan lalu menimbulkan perpecahan tak berujung,” terangnya.

Sebelum ‎acara mancing bareng dimulai, warga diajak menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, serta lagu dari Kotak ‘Tanah Airku’ menjadi suguhan tembang hiburan perdana untuk para mancing mania.

“Harapan kami rasa nasionalisme masyarakat semakin kuat, seduluran juga semakin rekat,” harapnya.

Terkait dengan biaya untuk kegiatan ini, kata Huda, adalah murni swadaya masyarakat.

‎Menurutnya, di tengah situasi politik nasional yang memanas, warga berinisiatif membuat acara yang dapat kembali mempererat tali persekawanan.Warga di sini berbeda-beda pilihan dalam Pemilu kemarin, baik pilihan presiden, maupun legislatif. Namun, warga tak ingin terpengaruh memanasnya situasi politik nasional.

“Kemarin‎ kita sudah menyalurkan hak pilih dengan damai. Sekarang lupakan pilihan masing-masing, jangan putus persabahatan dan seduluran, hanya karena beda gambar‎ dalam coblosan,” katanya.

Ditambahkan, terdapat beberapa ekor lele yang berukuran cukup besar sebagai ‘ikon’ yang turut dilepas. Bagi warga yang beruntung mendapat ‘ikon’ tersebut, berhak membawa pulang doorprize, yang disediakan panitia.

“Jangan dilihat besar-kecilnya doorprize, tapi ini wujud kebersamaan warga,” tegasnya.

Sedangkan Kepala Dusun Kuncen, Haryanto, yang hadir dalam kesempatan itu, turut menyumbangkan suara, dengan tembang ‘Tak Berdaya’ yang dinyanyikannya. Ia tampak sumringah, melihat warga guyub-rukun, tak terlibat pertikaian meski beda pilihan.

“Sudah sewajarnya kita hadapi pesta demokrasi dengan sikap dewasa, yang jagonya menang jangan jemawa, pun yang calonnya kalah juga harus lapang dada,” tuturnya.

Pest‎a rakyat ‘Mancing Bareng Kuncen Seduluran’ berlangsung hingga hampir larut malam. Sepanjang gelaran, gelak tawa, riuh canda, mencairkan suasana. Sepulang acara, aura bahagia berbinar di wajah warga. Seulas senyum dan sekeranjang ikan mereka bawa pulang.

Sebelum gelaran Pemilu, warga setempat juga sempat mengadakan nonton bareng debat Capres-Cawapres. Kala itu, warga yang telah menjagokan masing-masing calon presiden, juga duduk berdampingan.

Tidak hanya mancing mania saja yang datang dalam kegiatan bersama ini, warga yang hadir dalam gelaran ini datang dari lintas afiliasi politik, gender, usia, dan sosial. Tua-muda, anak-remaja, lelaki-perempuan, berbaur dengan hangat.

Bahkan, beberapa ibu yang tampak hadir di lokasi dengan menggendong anaknya, juga menenteng joran. ‎Hendak turut memancing. Tak mau kalah dengan para para lelaki yang telah menyiapkan kailnya.

Terlebih, itu juga merupakan peringatan ‘Hari Kartini’ yang jatuh tiap tanggal 21 April. “Kami ibu-ibu warga Kuncen juga tak mau kalah, turut berpartisipasi,” tutur seorang wara, Eni Subekti.

Ia mengaku senang dan bahagia, tak ada lagi polarisasi di tengah warga terkait pilihan politik masing-masing. Menurutnya, saat ini meski calon yang dijagokan kalah atau menang, warga Kuncen bisa menerima dengan lapang dada.

“Pesta demokrasi bukan ajang perpecahan, tapi harusnya sebagai pesta demokrasi yang bisa menyatukan di tengah perbedaan, seperti saat ini,” katanya. (set)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here