Kisah Miftahussalam Sang Pendidik yang Membangun Sekolah Gratis di Pantai Utara Banten

0
1280

Sudah Gratis, Jadikan Bahasa Mandarin Sebagai Bahasa Pengantar

Miftahussalam (46) sempat dianggap gila saat membangun sekolah gratis di kampungnya, Desa Kemiri, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Banten, delapan tahun silam. Berada tak jauh dari Pantai UtaraBanten, ia berhasil mendirikan sekolah dua lantai dengan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantarnya.

KHANIF LUTFI-Tangerang

Tangan Miftahussalam masih menggenggam tasbih saat melangkah keluar ruang kepala sekolah. Pagi itu, tugasnya mengecek satu demi satu ruangan kelas baru di lantai empat SMK Mutiara Bangsa, sekolah yang didirikannya delapan tahun silam. Langkahnya tenang. Sesekali ia menengok plafon di atas ruangan. Ini butuh ditambah lagi gypsum-nya, biar hawa panas nggak terlalu masuk, dindingnya masih akan kami cat lagi, ujarnya kepada wartawan Fajar Indonesia Network, Senin (7/1).

Bau adonan semen dan cat bercampur menjadi satu, pengap. Jendela ruangan tersebut belum dibuka. Ada tanda silang putih menyilang di tengah bidangnya. Tanda masih perlu ada perbaikan. Rencananya saya mau bikin laboratorium bahasa di sini, katanya.

Satu persatu ruangan diperlihatkanya. Ada yang besar seperti aula, ada pula ruangan ekstrakurikuler Bahasa Mandarin. Meski sekolah ini bertaraf SMK yang mendorong peningkatan keterampilan hidup, bahasa asal Negeri Tirai Bambu merupakan bahasa pengantar.

Sejumlah pengajar dari sebuah Yayasan Agama Budha yang bermarkas di Taiwan secara regular datang ke sekolah ini mengajarkan bahasa Mandarin kepada siswa-siswanya. Bagi Miftah-sapaan akrab Miftahussalam, kerja samanya bersama yayasan tersebut sudah berjalin sejak 2013 silam. Para murid yang berprestasi dalam berbahasa Mandarin kemudian disekolahkan ke sekolah khusus di Bogor. Mereka yang sudah lulus kemudian menjadi guru di sini, terangnya.

Diakuinya, sudah ada 400 lulusan SMK ini diterima di sejumlah perusahaan Tiongkok dan ada pula yang menjadi pengajar tetap di sekolah tersebut. Agustus 2017 lalu, sebanyak 80 mahasiswa asal Malaysia dan Taiwan menengok sekolah tersebut. Seharian mereka menjadi pengajar bahasa Mandarin di sana.

Sejak berdiri sembilan tahun silam, fasilitas dan biaya pendidikan di SMK Mutiara Bangsa gratis. Banyak yang tidak percaya bahwa sekolah ini gratis, atas dasar itu para orang tua enggan menyekolahkan anaknya ke sini, ujar Miftah menceritakan awal pendirian sekolah tersebut.

Menurut Miftah, warga di sini dahulu masih menganggap bahwa biaya pendidikan yang mahal menjadi jaminan anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Ia pun menampik hal tersebut, Miftah tak ingin diam, ia harus mengawal mimpi anak-anak Desa Kemiri mendapatkan. Bermodalkan ruang dan fasilitas seadanya dengan memakai dana seadanya, ia mendirikan SMK Mutiara Bangsa.

Saya tidak berpendidikan tinggi. Tapi hati saya, miris melihat banyak anak di desa saya putus sekolah dari SD ke SMP sudah putus. SMP ke SMA sudah putus. Dan saya merasa sekolah itu adalah hal sangat penting sekali. Kalau putus masa depannya bagaimana? katanya.

Meski honornya dari mengajar tak seberapa, tak pernah ia risaukan. Miftahusalam tetap berjuang mencari dana ke sana kemari agar operasional sekolahnya tetap berjalan . Ini masalah hati saja, kalau nyarinya uang atau yang lainnya. Enggak usah ke sini lah, dahulu seperti itu yang saya ucapkan ke para pengajar, terangnya.

Sejak awal berdiri, sekolah yang didirikan Miftahusalam kerap dianggap sebelah mata. Ia pun melakukan gebrakan menjadikan Bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar. Inovasi itu datang setelah ada Yayasan Budha Tsu Chi yang menawarkan pelayananya ke sekolah tersebut. Peluang itu, saya ambil dan kemudian saya minta diteruskan sampai sekarang. Saya melihat Bahasa Mandarin harus menjadi bahasa utama, mereka kan negara terkuat ekonomi kedua setelah AS, jelasnya.

Sepertinya kata putus asa tak pernah ada dalam kamus hidup pria berusia 46 tahun ini. Tapi ia tetap semangat membangun desanya, dari ketertinggalan pendidikan. Seiring berjalannya waktu sekolah rintisannya kini sudah mendapatkan ijin beroperasi. Berkat usaha dan kerja kerasnya, kini SMK tersebut sudah berlantai tiga dengan luas lahan hingga setengah hektar.

Mengejar mimpi membangun sekolah gratis bagi Miftahussalam tak semudah mengepalkan segenggam tangan. Jatuh bangun ia merintis sekolah di daerah terpencil pula. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sekolah, ia rela kerja serabutan. Allah SWT tak pernah buta, selama kita mau berusaha, tandasnya.

Sosok Miftahussalam memang sederhana, namun mimpinya tak sesederhana itu. Ia ingin anak didiknya bisa bermanfaat bagi sesama. Prinsip hidupnya, selama ia masih bisa berguna bagi orang lain, apapun dilakukannya. Miftahussalam telah mewujudkannya. Bagaimana dengan kamu?. (*/fin/tgr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here