Jelang Imlek, Order Barongsai Meningkat

0
42
Jelang Imlek, Order Barongsai Meningkat
BARONGSAI. Meski usianya sudah 64 tahun, dan keterbatasan fisiknya yang harus menggunakan kursi bantu roda, tak menyurutkan langkah Sandi, perajin barongsai untuk tetap berkreasi.

MAGELANG TENGAH – Jelang Tahu Baru Imlek 5 Februari 2019, Sandi (64) kini disibukkan dengan berbagai pesanan pembuatan barongsai liong atau naga. Sandi sendiri merupakan kepala penasihat gabungan adat seni dan budaya barongsai di Kota Magelang, sekaligus pengrajin barongsai yang memiliki bengkel sanggarnya di Jalan Daha, Magelang Tengah, Kota Magelang yang masih eksis sampai sekarang.

Bermacam pesanan ia terima dari berbagai kota di penjuru Indonesia. Meski usianya sudah tak muda lagi, namun semangatnya masih menggelora ketika menceritakan bagaimana kisah profesinya sebagai pengrajin barongsai.

Dari rumahnya yang dipenuhi handmade barongsai, Sandi masih cekatan membuat barongsai meski sambil duduk di atas kursi roda. Keahliannya ini tak lepas dari kesukaanya pada barongsai sejak berusia 5 tahun. Sejak kecil Sandi diasuh sang kakek dan dididik untuk mewarisi serta meneruskan seni budaya barongsai ini.

”Saya sejak kecil sudah belajar seni barongsai dan membuatnya. Sampai sekarang saya tetap belajar dan aktif membuatnya,” katanya kepada wartawan, Kamis (31/1).

Saking cinta dan aktifnya di kesenian ini, Sandi pun menerjunkan diri untuk aktif di perkumpulan kesenian barongsai sampai akhirnya menjadi tetua atau dituakan. Sebagai sesepuh pelaku seni khas Tionghoa ini, ia pun tak segan untuk membantu klub-klub seni barongsai ketika mengalami kesulitan, seperti pendanaan.

”Kalau ada yang butuh perlengkapan barongsai tapi terkendala dana, saya dengan hati akan membuatkannya tanpa harus dibayar. Itu sudah jadi niat saya agar kesenian ini tetap eksis,” katanya.

Selain itu, Sandi juga mengaku, membuka diri bagi siapa saja yang ingin belajar seni barongsai dan membuatnya tanpa harus membayar. Meskipun ia menyadari, tidak jarang orang yang minat belajar membuat kerajinannya cepat merasa jenuh.

”Terkadang orang yang ingin belajar hanya bertahan beberapa hari saja, karena jenuh. Memang cara membuat barongsai cukup sulit dan memakan waktu lama. Intinya harus sabar dan tekun,” tuturnya.

Menurutnya, kesenian barongsai bukan hanya tarian semata yang menarik tetapi juga semi atau full akrobatik yang mengandalkan skill. Barongsai juga mempunyai ritual-ritual khusus saat akan memulai memainkan tarian tersebut.

”Ada ritual khusus yang harus dilakukan agar terhindar dari hal-hal negatif yang tidak kita inginkan,” ujarnya.

Sandi yang pernah ke Hongkong mewakili seni barongsai asal Kota Magelang itu menambahkan pelestarian kesenian barongsai dan mempertahankan kebudayaan Tionghoa yang semakin terdesak arus modernisasi di Magelang ini memang sulit. Namun, karena panggilan hati, dia berkomitmen akan tetap berkosentrasi menekuni seni pembuatan kepala barongsai ini.

”Banyak yang saya buat di rumah, seperti kepala barongsai lengkap dengan segala aksesorisnya. Termasuk sejumlah aksesori khas Tionghoa yang biasanya banyak dicari di momen menjelang perayaan Tahun Baru Imlek ini,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here