Beragam Buku Sejarah Dipamerkan di Bakorwil Kedu

0
31
Beragam Buku Sejarah Dipamerkan di Bakorwil Kedu
GEMES. Wakil Walikota Magelang, Windarti Agustina menjajal peralatan literasi suara dengan menggunakan alat bantu pendengaran di sela acara Gerakan Melek Sejarah di bekas Gedung Bakorwil II Kedu-Surakarta, kemarin.

MAGELANG TENGAH – Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memamerkan beragam buku sejarah bangsa Indonesia di Museum BPK RI Magelang, Jumat (29/3). Termasuk menghadirkan dua lukisan masterpiece karya Haris Purnomo dan Ronald Manullang.

Pameran yang akan digelar hingga Minggu (31/3) ini jadi bagian dari Gerakan Melek Sejarah (Gemes) bertajuk Pameran Literasi Sejarah. Pameran ditujukan kepada masyarakat umum, terutama anak-anak muda agar melek dan lebih mengenal sejarah.

”Kita pamerkan beragam buku sejarah dari berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan lainnya. Sasarannya anak-anak milenial agar lebih mengenal sejarah bangsanya,” kata Direktur Sejarah Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Triana Wulandari di sela pembukaan.

Tidak hanya pameran buku, turut ditampilkan pula beberapa alat pembelajaran yang interaktif, seperti aplikasi atlas, buku digital, film pendek, dan lainnya. Termasuk zona khusus untuk mengenal lebih dekat sosok pahlawan nasional, Pangeran Diponegoro.

”Kita tampilkan zona khusus Pangeran Diponegoro. Di zona ini ada video pendek tentang sejarah Perang Jawa, atlas interaktif tentang Perang Jawa, dan area khusus lukisan tentang Sang Pangeran. Dua lukisan asli kita pajang karya Haris Purnomo dan Ronald Manullang serta 40 lukisan repro,” katanya.

Triana menyebutkan, Pangeran Diponegoro ditampilkan khusus dalam Gemes ini, karena remaja atau generasi milenial sekarang bisa mengambil inspirasi sang tokoh pahlawan nasional. Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda di Kota Magelang ini memiliki jiwa nasionalisme dan semangat juang yang tinggi.

”Beliau (Diponegoro) punya jiwa kepemimpinan yang kuat, keteguhan, dan lainnya. Melalui Gemes ini kami harap dapat menguatkan keberlanjutan sejarah. Pemahaman sejarah tidak hanya secara tekstual saja, tapi juga pola pikir dan sikap kritis di tengah derasnya arus informasi saat ini,” jelasnya.

Turut hadir pada kesempatan itu, Wakil Walikota Magelang, Windarti Agustina, Wardiman, mantan Menteri Pendidikan era 1993-1998 dan sejarawan Peter Carey yang juga mengisi agenda bedah buku.

Windarti mengaku bangga Kota Magelang menjadi tempat pertama diadakannya Gemes ini. Menurut dia, Gemes tidak hanya diadakan sekali saja, tapi bisa diadakan rutin setiap tahun.

”Acara yang sangat mendidik generasi muda kita, maka harus menjadi agenda rutin. Pemkot Magelang sendiri berkomitmen mendukung Gemes ini dan siap menyukseskannya lagi di tahun mendatang,” tuturnya.

Dia menyebutkan, Kota Magelang tak akan lepas dari kisah sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Di Kota Jasa inilah, Sang Pangeran ditipu oleh kolonial Belanda dan ditangkap untuk kemudian diasingkan.

”Untuk mengenang itu, maka hadirnya Museum Pangeran Diponegoro yang menyimpan banyak koleksi bersejarah, salah satunya kursi yang di sandaran tangannya terdapat cakaran Sang Pangeran yang marah karena ditipu oleh Belanda,” paparnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here