Rabu, 21 November 2018

Nama Site

Metropolis

 Terbaru

Tidak Dikepras Tak Masalah

Jumat
09 November 2018 🕔 11:41:15 WIB

*Asal Ada Lahan Parkir*

MAGELANG SELATAN - Area luas untuk pengelolaan parkir kawasan wisata Gunung Tidar memang sudah mendesak dilakukan. Hal ini seiring dengan kian bertambahnya wisata religi di bukit setinggi 502 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut.

Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Gunung Tidar, Widodo mengatakan, setelah berkali-kali dilakukan pengembangan, keberadaan Gunung Tidar sekarang sudah menjadi magnet wisatawan untuk datang ke Kota Sejuta Bunga. Khususnya para peziarah yang mengunjungi makam Kyai Syaikh Subakir dan Eyang Ismoyo Jati.

”Para peziarah ini biasanya datang rombongan satu sampai dua bus. Kalau akhir pekan atau bulan-bulan tertentu, bisa dilihat banyak bus membawa rombongan peziarah ke Gunung Tidar,” kata Widodo, Kamis (8/11).

Lantaran tidak adanya area khusus, bus-bus yang mengantar peziarah ini kemudian terparkir di area eks Terminal Lama atau kompleks pertokoan Rejomulyo. Tak ada tempat lagi, jika bus-bus ini jumlahnya belasan dalam satu waktu.

”Memang diperlukan solusi untuk mengantisipasi membludaknya peziarah menggunakan bus besar. Salah satunya adalah memperluas area eks Terminal Lama dengan mengepras sisi selatan Gunung Tidar,” jelasnya.

Widodo pun mengakui jika rencana tersebut akan menimbulkan pertentangan. Terlebih banyak pihak yang menganggap bahwa Gunung Tidar adalah simbol dari Kota Magelang sendiri, sehingga kelesterian lingkungan yang ada di dalamnya adalah nilai tinggi yang tak bisa ditukar.

”Komisi C DPRD Kota Magelang juga sudah menolaknya. Tapi kami anggap tidak terlalu pusing, karena sebagai pengelola yang terpenting pengunjung menggunakan bus-bus besar itu tetap bisa merasa nyaman dengan fasilitas yang diberikan,” ujarnya.

Dia tidak mempedulikan, ketika masyarakat ramai-ramai menolak rencana pengeprasan. Jikalaupun ada tempat lain yang layak dijadikan area parkir bus, maka pihaknya dengan senang hati menerimanya.

”Yang penting memadai gitu saja, sehingga wisatawan merasa nyaman ketika berkunjung. Tidak pusing-pusing, ini parkir di mana, kejauhan tidak, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Widodo mengatakan, sebelum muncul rencana pengeprasan Gunung Tidar sekitar satu hektar ini, ada beberapa opsi yang coba ditawarkan. Seperti, bus wisatawan parkir di halaman Magelang Theatre (MT) Alun-alun Timur dan pengunjung dijemput menggunakan mobil shuttle menuju Gunung Tidar.

Opsi lain parkir di Terminal Tidar dengan sistem dijemput mobil shuttle juga, tapi keduanya dinilai kurang baik. Kemudian, muncul opsi lagi parkir di kawasan Sentra Ekonomi Lembah Tidar (SELT) yang sekarang menjadi sub terminal dan pusat kuliner, namun lagi-lagi juga ditolak karena untuk menuju ke sana bus susah bermanuver.

”Kalau hasil kesepakatan bersama sudah berupa solusi, kami akan dengan senang hati melaksanakannya,” ucapnya.

Seperti diketahui, rencana pengeprasan sebagian lahan di Gunung Tidar ini mendapat penolakan dari kalangan Anggota Komisi C DPRD Kota Magelang. Seperti diungkapkan Muh Haryadi bahwa pengeprasan tersebut akan menghilangkan nilai sejarah dan budaya kawasan gunung ini.

Demikian halnya dengan Ketua Komisi C DPRD Kota Magelang, Evin Septa Haryanto Kamil yang menilai jika pengeprasan akan mengurangi estetika Gunung Tidar. Dia juga meminta eksekutif Pemkot Magelang untuk memperhatikan dampak positif dan negatifnya sebelumnya rencana tersebut direalisasikan. (wid)

Tag
Bagikan

Tinggalkan Komentar