Rabu, 21 November 2018

Nama Site

Temanggung Ekspres

 Terbaru

Panen Raya Usai, Harapan Petani Pupus

Selasa
06 November 2018 🕔 10:10:00 WIB

*Kualitas Tembakau Baik, Harga Rendah*

Panen raya tembakau tahun ini sudah berakhir. Sementara harapan petani untuk meraih pundi-pundi rupiah dari hasil penjualan tembakau mereka pupus. Sebab harga tembakau pada panen raya tahun ini tidak sesuai dengan harapan petani.

SETYO WUWUH Bansari

Panen raya tembakau yang hanya setahun sekali menjadi harapan besar bagi petani tembakau di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing untuk mendulang rupiah. Apalagi jika cuaca yang terjadi selama panen raya mendukung. Biasanya jika cuaca mendukung, harga jual tembakau asli Temanggung akan menjulang tinggi.

Namun tidak pada panen raya tahun ini, meskipun cuaca sangat mendukung saat panen raya tiba, tapi harga jual tembakau rajangan kering tidak sesuai dengan harapan petani. Bahkan harganya sangat jauh dari harapan.

“Saya jual tembakau paling tinggi hanya Rp120 per kilogram dan terendah Rp35 ribu per kilogram. Padahal kualitas tembakau tahun ini sangat bagus,” ucap Slamet Rahono  salah satu petani tembakau di Desa/Kecamatan Bansari.

Memang diakuinya, harga tembakau pada panen raya ini sudah cukup bagus, namun harga tersebut tidak sesuai dengan kualitas dari tembakau yang ada. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 lalu harga tembakau saat ini sangat jauh dibawahnya.

“Kalau kualitasnya tidak kalah dengan tahun 2011, bisa dibilang kualitas tembakau tahun ini lebih baik. Tapi kenapa harganya tidak seperti harga tembakau saat panen raya 2011 lalu,” katanya.

Tidak hanya itu, pada panen raya tahun ini kuantitas tembakau asli Temanggung juga tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini bisa dilihat dari tanaman tembakau yang ada di lereng Gunung Sindoro, Sumbing dan Prau.

Tingkat pertumbuhan tanaman tembakau di tahun ini turun hingga 45 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh curah hujan yang minim saat musim tanam dariawal hingga pertengahan tahun 2018.

Seharusnya dengan menurunya kuantitas tembakau, harga jual juga akan semakin tinggi. Namun hukum pasar ini ternyata tidak berlaku bagi petani tembakau di panen raya tahun ini.

“Biasanya jika barang sedikit harganya semakin bagus, tapi tahun ini tidak seperti itu. Hukum pasar untuk perdagangan tembakau tahun ini tidak berlaku. Harga tembakau tahun ini sama sekali tidak sesuai dengan harapan petani,” tuturnya.

Menurutnya, jika dilihat dari kebutuhan dua pabrikan PT GG dan PT D, disetiap panen raya, maka tembakau hasil produksi petani di lereng Sindoro dan Sumbing serta Prau tahun ini tidak mencukupi. Tapi pada kenyataanya pabrikan tidak membeli semua tembakau.

“Heran saja, tembakau milik petani hanya sedikit, tapi saat panen raya tiba tembakau membludak. Saya juga tidak tahu pasti tembakau yang masuk ke Temanggung darimana saja,” tuturnya.

Kedepan petani berharap, agar pabrikan bisa lebih peka terhadap kondisi yang terjadi di wilayah Kabupaten Temanggung. Selain itu pabrikan juga bisa lebih membedakan mana tembakau asli Temanggung dan tembakau dari luar daerah.

Sehingga harapnya, harga tembakau lokal Temanggung bisa terus terjaga, selain itu petani juga bisa semakin meningkatkan dan mempertahankan kualitas tembakau.

“Jika kondisinya seperti ini terus, petani juga yang dirugikan. Petani sudah berusaha menjaga kualitas tembakau, tapi masih dibeli dengan harga yang sama dengan tembakau dari luar daerah. Semoga saja kedepan ada perbaikan, sehingga petani tembakau Temanggung bisa tetap hidup,” tutupnya.(*)

Tag
Bagikan

Tinggalkan Komentar