Rabu, 21 November 2018

Nama Site

Metropolis

 Terbaru

Lahan Parkir Masih Sanggup Fasilitasi Pengunjung

Kamis
08 November 2018 🕔 11:00:15 WIB

*Dewan Memprotes Rencana Pengeprasan Gunung Tidar*

Hutan lindung Gunung Tidar sudah tertata rapi. Balutan pembangunan modern serta konsep natural yang masih terasa, kian membawa suasana kesejukan di Kota Magelang. Gunung Tidar benar menjadi paru-parunya Magelang. Namun, hutan hijau itu setahun lagi bakal bolong 1 hektar luasnya jika usulan Pemkot Magelang, melakukan ”pengeprasan” Gunung Tidar untuk lahan parkir dan sentra UMKM dilakukan.

WIWID ARIF, Magelang

SEORANG pria berseragam safari itu sesekali menatap hutan lebat nan hijau di depannya, kemudian sesekali menundukan kepala. Pria itu tak habis pikir, apa yang terlihat indah dipenuhi dengan pohon-pohon tinggi rapat akan dihilangkan sebagian dari lereng Gunung Tidar.

Hutan mestinya menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat untuk sama-sama menjaganya. Bukan mengubah, apalagi menghilangkannya, walaupun hanya sebagian kecil saja.

Pria itu adalah Muh Haryadi, Anggota Komisi C DPRD Kota Magelang, yang dari kecil sudah akrab dengan Gunung Tidar. Dia tinggal di Kampung Trunan, Tidar Selatan. Setiap petang, ia bersama teman-teman masa kecilnya sering berlarian hingga ke lereng Gunung Tidar untuk bermain.

”Tapi waktu itu hutannya masih gundul karena ditebangi. Saya tidak bisa berpikir kalau nanti sebagian kecil dari Gunung Tidar ini akan digundulkan lagi,” kata Haryadi.

Ia sudah lama mendengar rencana ”pengeprasan” sebagian lahan Gunung Tidar diusulkan Pemkot Magelang, sebagai upaya untuk pengembangkan potensi wisata di area itu. Konsepnya, setahu Haryadi, lahan 1 hektar akan diratakan, kemudian dijadikan lahan parkir dan sentra UMKM.

”Gunung Tidar sudah cukup lama jadi ”korban”. Dulu juga sempat dikepras ketika dibangun Kios Rejomulyo. Lha kok sekarang mau ditebang lagi. Tidak tega saya,” ucapnya.

Dia merasa sedih lantaran yang berjuang untuk menghijaukan kembali Gunung Tidar adalah taruna-taruna Akademi Militer pada tahun 1986 silam. Kala itu, para taruna datang ke atas, mendaki, sembari membawa bibit pohon.

”Sampai akhirnya lebat seperti ini juga berkat upaya mereka (taruna). Jangan main kepras-kepras sajalah. Lebih baik ini didiskusikan dulu dengan semuanya karena Gunung Tidar milik masyarakat, bukan pemerintah saja,” jelasnya.

Pasalnya, tokoh masyarakat Kampung Trunan itu khawatir jika pengeprasan nantinya akan mengurangi sisi sejarah dan kekayaan budaya di Gunung Tidar. Apalagi, selama beberapa tahun terakhir, Gunung Tidar sudah mengalami perubahan bentuk berkali-kali.

”Dulu bentuknya elips kayak telur ayam, tapi dikepras karena dibuat Toko Rejomulyo, jadi bentuknya kurang rapi. Kalau dikepras lagi 1 hektar, lalu mau jadi apa bentuknya,” paparnya.

Haryadi bersikukuh akan menolak rencana itu. Selagi hanya dirinya pun yang bisa mencegah dia berjanji akan tetap menentangnya.

”Meski saya tidak didukung, saya akan berusaha supaya rencana itu (pengeprasan) batal,” tandasnya.

Bukannya supaya dicap arogan atau keras kepala, karena ia berpikir secara rasionalnya Gunung Tidar sebenarnya belum membutuhkan area parkir luas dan megah ditambah sentra UMKM seperti yang direncanakan. Apalagi, ada alternatif lain untuk membangun dua tempat itu, seperti di kawasan Pasar Sidomukti.

”Sampai sekarang saya belum pernah lihat, bus-bus peziarah dan wisatawan sampai membludak, akhirnya makan ruas Jalan Ikhlas. Pasti bisa masuk kok. Jadi masih sangat realistis kalau rencana itu ditangguhkan saja,” ungkapnya.

Bahkan, Haryadi yang juga Sekretaris Fraksi Partai Golkar tersebut mengaku ingat betul pesan yang disampaikan mendiang Sultan HB IX saat berkunjung ke Magelang. Kala itu, dirinya masih sekolah tingkat dasar.

”Sinuhun (Sultan HB IX) berpesan kepada mendiang bapak saya, Darmo Wikarto yang merupakan Bayan Trunan saat itu, kalau lahan Gunung Tidar tidak boleh diowah-owah (diubah) karena jadi pakuning Jawa,” tuturnya.

Ia mengakui jika pesan tersebut punya arti secara tersurat dan tersirat. Haryadi lantas mengatakan dirinya tidak bermaksud musyrik, tapi akan lebih baik jika pesan itu dimaknai sebagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk mempertahankan estetika Gunung Tidar. (*)

Tag
Bagikan

Tinggalkan Komentar