Rabu, 21 November 2018

Nama Site

Wonosobo Ekspres

 Terbaru

Krisis, Warga Beli Air Rp150 Ribu

Sabtu
03 November 2018 🕔 09:40:15 WIB

WONOSOBO- Kabupaten Wonosobo dianugerahi alam yang indah dan hari hujan yang panjang. Namun, kemarau panjang tahun 2018 memberi dampak bagi warga Dusun Banaran Kayugiyang Garung. Mereka mengalami krisis air bersih. Bahkan warga harus membeli air dari desa yang ada di bawahnya.

Setiap hari warga  antri di tempat pemandian umum untuk mengisi jerigen atau ember. Air yang keluar dari selang sangat kecil, butuh waktu hingga setengah jam untuk mengisi ember dengan ukuran 5 liter air.

Warga setempat mengaku krisis air bersih sudah terjadi cukup lama, sejak dua bulan lalu. Namun, hingga sekarang kondisinya semakin parah. Padahal hujan sudah mulai menguyur di sejumlah wilayah di Kabupaten Wonosobo.

Untuk memenuhi kebutuhan air  bersih, warga Dusun Banaran harus membeli air di Dusun Kalikuning sebesar Rp150 ribu untuk setiap 5 drum. Kapasitas setiap satu  drum sekitar 200 liter, sehingga total 1000 liter. Kebutuhan air minimal per hari  untuk konsumsi setiap kepala keluarga di dusun banaran minimal 300 liter.

“Kebutuhan air bersih untuk konsumsi sejumlah 300 liter per satu KK untuk per hari, karena tidak ada air. Maka sejumlah warga berinisasi membeli air sendiri di dusun sebelah, per 5 drum Rp150 ribu, diangkut pakai mobil,” ungkap Kades Kayugiyang Sumaryo Yuwono kemarin.

Pihak pemerintahan desa sendiri mengaku sudah mengajukan  permohonan bantuan air kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo. Surat dilayangkan pada tanggal 10 Oktober 2018 silam. Namun hingga saat ini belum ada realisasi dropping air.

Sementara itu, Sekcam Garung Budi Pranoto  mengemukakan keluhan terkait krisis air bersih warga Banaran Kayugiyang dilaporkan pihak kepala desa saat dia bersama Tim Gone-Des, membuka pelayanan adminsitrasi jemput bola  ke desa setempat.

“Kami menerima keluhan itu.  Kemudian dilakukan pantauan secara bersama. Ternyata air yang digunakan oleh warga benar-benar kecil, mereka harus antri berjam-jam,” ungkapnya.

Menurutnya, debit mata air yang dialirkan ke bak penampungan di Dusun Banaran mengalami penurunan cukup signifikan, dampak dari musim kemarau panjang. Air tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan warga setempat.

“Ada warga yang mengaku membeli air,  ongkos pengambilan air dari desa yang ada di bawah sebesar Rp50 ribu, menggunakan mobil bak terbuka,” pungkasnya. (gus)

Tag
Bagikan

Tinggalkan Komentar