Rabu, 21 November 2018

Nama Site

Magelang Ekspres

 Terbaru

Passing Grade Tinggi Jadi Faktor Kegagalan Peserta Tes

Rabu
07 November 2018 🕔 12:19:00 WIB

Melihat Pelaksanaan Tes CPNS 2018 di Kota Magelang

Pandangan Atika (22) tak pernah lepas dari lembaran kertas yang ditempel di papan pengumuman. Perempuan asal Purwokerto, Banyumas itu sejenak kemudian menjauh pelan dari papan pengumuman. Sesekali ia memandang gadget yang ada di tangan kanannya. Hal ini juga tergambar ribuan orang lainnya yang memenuhi kawasan Gedung Wiworo Wijipinilih, Kota Magelang, Selasa (6/11), ketika tes kompetensi dasar (TKD) seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Temanggung digelar.

WIWID ARIF, Magelang

ATIKA menjadi satu dari ribuan peserta TKD untuk formasi Kabupaten Temanggung. ”Ya Allah, hanya kurang 5 poin saja. Yang saya kerjakan di tes intelegensi umum (TIU) cuman salah satu,” sesal perempuan berambut ikal tersebut.

Sebenarnya, Atika bisa melewati batasan nilai di dua kategori tes lainnya. Sayangnya, jika ada satu kategori yang di bawah passing grade (ambang batas), tetap saja peserta gagal lolos untuk mengikuti tes tahap berikutnya.

Ia mendapatkan nilai di atas ambang batas untuk tes tes karakter pribadi (TKP) dan tes wawasan kebangsaan (TWK). Namun dia gagal untuk mendaptkan poin 80 dari TIU. ”Hanya dapat 75 poin dari 30 soal. Hanya salah satu soal,” ucapnya.

Berbeda dengan peserta lain, yang menganggap momok TKP karena ambang batas yang tinggi yakni143 poin. Namun, khusus TKP Atika mengaku tidak ada kesulitan yang berarti. Demikian halnya dengan TWK, ia berhasil lolos dengan poin 80 dari passing grade 75 poin.

”Saya rasa yang paling sulit justru TIU-nya karena kita harus memburu waktu, di satu sisi agak kemrungsung juga sih. Padahal belajar sudah penuh, berdoa juga, bahkan saya rela tidur di Magelang untuk persiapan ikut tes,” ungkap pendaftar guru tersebut.

Peserta sendiri wajib mengerjakan SKD yang terdiri dari tiga bagian materi tes yakni TWK sebanyak 35 soal, TIU sebanyak 30 soal, dan TKP sebanyak 35 soal. Peserta wajib mengerjakan 100 soal tersebut dalam waktu 90 menit. Jika dirata-rata, berarti pengerjaan untuk satu soal maksimal hanya 54 detik.

Gedung Wiworo Wijipinilih Kota Magelang sendiri sudah melangsungkan seleksi CPNS dari berbagai daerah di eks-Karesidenan Kedu. Namun, dari ribuan yang mendaftar di tiap daerah, hampir semua daerah gagal memenuhi jumlah formasi yang dibutuhkan. Ini terjadi karena peserta kebanyakan gagal dalam menuntaskan passing grade TKD, terutama pada model TKP yang menuntut poin minimal sebesar 143.

Seperti seleksi yang diikuti peserta Kabupaten Magelang, dari sebanyak 3.030 pendaftar CPNS yang lolos seleksi administrasi, 2.854 di ataranya harus pulang lebih awal. Sedangkan yang lolos TKD tercatat 176 orang. Padahal, Kabupaten Magelang sendiri membuka kuota CPNS sebanyak 259 formasi, sehingga masih kurang 83 orang lagi, itupun jika yang telah lolos TKD tersebut, berhasil lolos pada seleksi berikutnya.

Di daerah lain pun rata-rata demikian. Banyak formasi yang dibuka, tetapi tidak memenuhi peserta yang lolos TKD.

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Tidar (Untidar), Dr Hari Wahyono MPd menganggap bahwa kebijakan Badan Kepegawaian Nasional (BKN) menerapkan nilai ambang batas yang terlalu tinggi, sehingga peserta mudah gagal untuk melaluinya. Faktor lainnya, Hari menilai jika durasi yang ditentukan, yakni 54 detik tiap soal terlalu singkat.

”Kebanyakan peserta, terutama bekas mahasiswa Untidar yang curhat dengan saya, itu menganggap kalau durasinya terlalu cepat. Giliran sudah mau habis waktu, mereka akhirnya mengarang jawaban. Itu yang menurut saya bisa dijadikan evaluasi ke depan, panitia seleksi CPNS memperhatikan soal durasi waktu,” ucapnya.

Menurut Hari, ada beberapa bahan yang bisa dijadikan evaluasi panitia penyelenggara menentukan kebijakan agar tidak menyulitkan para peserta. Yang paling logis, kata Hari, adalah penambahan durasi waktu. Apalagi para peserta harus mengerjakan TKP yang pilihannya cenderung sama.

”Karena opsi (pilihan) hampir sama-sama, sehingga kan butuh pencermatan, pemikiran, dan keputusan. Tiga hal itu belum bisa didapat hanya dalam durasi kurang dari semenit,” katanya.

Selain itu, menyikapi formasi yang dibuka di daerah, karena belum terpenuhi dalam tes CPNS tahun ini, Hari menyarankan BKN untuk mengubah alternatif penilaian. Pertama, bisa dilakukan dengan menurunkan passing grade.

”Nanti peserta yang mendekati passing grade dipanggil semua, diseleksi lagi. Karena kalau mengubah soal atau menambah durasi, kemungkina baru bisa dilakukan tahun depan. Tapi untuk mengisi kekosongan, pemerintah bisa menerapkan strategi penurunan ambang batas itu,” terang alumnus UNESS tersebut.

Panitia, kata dia, bisa membuat peringkat dari hasil tes SKD CPNS tersebut dan tidak langsung menggugurkan. Hal ini supaya putra-putri terbaik Indonesia di bidangnya dapat berkompetisi lebih lanjut.

”Nanti yang peringkat terbaik di bawah passing grade diseleksi lagi, tidak apa-apa. Itu malah memacu semangat peserta untuk selalu belajar,” pungkasnya. (*)

Tag
Bagikan

Tinggalkan Komentar