29.4 C
Magelang, ID
Wednesday, January 23, 2019
Home Blog

Mengintip Keperawanan Tujuh Curug di Kalidesel Watumalang

0
Menikmati Keindahan Curug Si Gludug
TINGGI. Curug Si Gludug di desa Kalidesel kecamatan Watumalang memiliki ketinggian 30 meter dan ada sumber air panas tak jauh dari sana.

Perlahan akan Dikelola Menjadi Wisata Alternatif

Salah satu desa di Kecamatan Watumalang yang memiliki potensi unggulan hasil pertanian seperti jagung dan cabai ialah Desa Kalidesel. Selain kaya potensi pertanian, di kawasan desa berbukit itu terdapat potensi wisata alam yang masih tersembunyi. Bahkan, kerap disebut perawan.

PERAWAN yang dimaksud di sini yaitu, air terjun berbeda dengan di kawasan lain. Uniknya, curug atau air terjun di sana tak hanya ada satu tetapi ada sekitar tujuh air terjun yang bisa dieksplorasi.

Ada Curug Silumpang Atas dan Bawah, juga ada Curug Pinton di Dusun Kalidesel, lalu ada Curug Gribig, Curug Sitepus, Curug Si Gludug, dan Curug Si Sabrang yang ada di Dusun Lamuk, lalu di Dusun Jawera ada Curug Grenjeng.

Pihak Pemerintahan Desa Kalidesel tengah berupaya menjadikan obyek wisata curug tersebut menjadi wisata alternatif di Wonosobo. Salah satu dari tujuh curug tersebut ialah curug Si Gludug yang merupakan curug dengan akses termudah.

Untuk Si Gludug, dari pihak desa sudah dianggarkan pada tahun 2019 untuk dilakukan penataan tempat di lokasi curug. Sehingga kedepannya potensi curug semakin dikenal karena semakin mudah dijangkau dan secepatnya akan dilakukan beberapa pembenahan agar obyek wisata lain di beberapa dusunbisa naik kelas.

“Kita sedang menyiapkan kebijakan di tingkat desa, serta perencanaan pembangunan infrastrukturnya. Terutama, penataan di lokasi curug dan kita upayakan untuk bisa lebih memadai bagi wisatawan,” kata Sekretaris Desa Kalidesel Hanif Alvian kemarin.

Dengan ketinggian hampir 30 meter, Si Gludug yang berada tepat di kaki gunung Bismo itu ternyata menyimpan pesona alami yang unik. Terlebih dalam satu kawasan curug tersebut, pengunjung bisa merasakan air dingin dan juga air hangat sekaligus. Sumber airnya diyakini berasal dari kaki gunung dan warga desa setempat Tunjang Ari Suseno, kawasan itu biasa disebut dengan ‘Alas Semembut’.

Kalau ingin merasakan nikmatnya air dingin yang segar, pengunjung bisa langsung menuju ke curugnya. Sedangkan, jika ingin menikmati air hangat bisa menuju di samping curug yang ditumbuhi banyak lumut.

“Keunikannya usai merasa kedinginan, pengunjung yang mandi di curug, bisa langsung menghangatkan badan tak jauh dari sana,” imbuh Tunjang yang juga penggiat Desa Wisata Kalidesel.

Pemandangan lain yang menarik juga adanya stalaktit dan stalakmit  yang terbentuk bak batu karang. Letak curug Si Gludug sendiri juga ada di kawasan perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara.

Sementara itu, menurut Kabid Destinasi Pariwisata Disparbud Edi Santoso, keberadaan curug Si Gludug diharapkan bisa menjadi salah satu destinasi wisata lokal yang menjadi alternative. Mengingat  kini tengah naik daun berbagai jenis wisata yang mencakup olahraga berjalan kaki di alam.

“Potensi Kalidesel sudah ada dan besar, tinggal manajemen pengelolaannya yang harus disiapkan dengan matang. Harus memenuhi 4 A yaitu accessibility, amenity, attraction, dan juga ancillary sebelum benar-benar siap dijual. Yang terpenting ada konsep dan penataan dulu,” kata Edi.

Meski belum dikelola maksimal, Curug Si Gludug kini sudah semakin dikenal lewat media sosial. Hanya butuh kurang lebih sekitar satu jam dari pusat kota Wonosobo untuk menjangkau kawasan curug dan pengunjung bisa berjalan kaki 15 menit menyusuri jalan setapak dari area parkir.

Kedepannya, disebut Edi, desa Kalidesel juga akan disokong oleh berbagai aktivitas dan atraksi swisata seperti pertunjukan seni budaya, aktivitas keseharian petani, hingga live-in. Nantinya wisata itu akan dikemas dalam bentuk paket wisata dan dipromosikan untuk menambah destinasi. (*)

Korban Diduga Tertimpa Batu Terbesar

0
Korban Diduga Tertimpa Batu Terbesar
Tim berhasil menemukan pakaian dan ember yang diyakini sebagai barang milik korban Mardi (60).

#Tim Temukan Ember dan Baju

WONOSOBO– Memasuki hari ke empat pencarian korban tanah longsor di Dusun Windusari, Desa Tlogojati, Kecamatan Wonosobo, tim gabungan menemukan titik terang. Tim berhasil menemukan pakaian dan ember yang diyakini sebagai barang milik korban Mardi (60).

“Kami temukan ember yang berisi pakaian korban di antara dua batu paling besar dan batu yang sudah dihancurkan. Tempat penemuan pakaian berada dilantai tempat pemandian umum,” ungkap  Koordinator Incident Commander (IC) Penanganan Longsor Dusun Windusari, Kapten Inf Heru Utomo, kemarin.

Pencarian yang terhadap korban yang diduga tertimbun batuan longsor dilakukan tim gabungan  sebanyak 150 orang, yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD Wonosobo, Unit Siaga SAR Wonosobo, Tagana, SAR Kabupaten Wonosobo, relawan bersama masyarakat serta tim khusus pemecah batu.

Menurutnya,  tim gabungan berhasil menemukan pakaian yang ada di dalam ember milik korban. Di antaranya batu yang paling besar dan batu yang sudah berhasil dihancurkan. Ember berisi pakaian tersebut ditemukan pada  pukul 16.00 WIB.

“Setelah batu paling besar berhasil dipecah oleh tim pemecah batu manual, terlihat ada ember dan pakaian. Kedua barang itu sudah dikonfirmasi kepada pihak kelaurga dan warga, diyakini milik pak Mardi,” ujarnya.

Namun, korban belum bisa diketahui keberadaannya. Diduga kuat posisi korban  berada di bawah batu yang paling besar. Karena itu, pencarian pada hari kelima akan difokuskan untuk menghancurkan batu yang paling besar.

“Pencarian hari kelima, ahli pemecah batu akan menghancurkan batu yang paling besar. Pasalnya korban diduga berada di bawah batu yang besar, penemuan ember dan baju ini menjadi petunjuk kuat bagi kita untuk fokus pada titik tertentu,”  bebernya.

Pencarian korban yang diduga tertimbun batuan longsor di Dusun Windusari Tlogojati dimulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. Kesulitan yang dialami tim lantaran  material longsor terdiri dari tiga batu besar yang sulit dihancurkan. Selain itu hujan yang sering turun, sehingga pencarian harus dihentikan karena ditakutkan terjadi longsor susulan. (gus)

Kandang Terbakar, 6.900 Ayam Terpanggang

0
Kandang Terbakar, 6.900 Ayam Terpanggang
KEBAKARAN. Puing-puing kandang ayam bekas terbakar di Dusun Karanganyar, Desa Sutopati Kajoran, terjadi akibat kelalaian penjaga kandang tersebut.

KAJORAN – Akibat ditinggal tidur, kandang ayam pedaging di Dusun Karanganyar, Desa Sutopati , Kecamatan Kajoran mengalami kebakaran, Senin (21/1).

Berdasarkan keterangan penjaga kandang, Muslihin, bahwa ia bermaksud memanaskan ayam dilantai satu dan dua. Pemanasan dengan menggunakan alat berupa blower. Namun sekitar pukul 23.00 WIB, ditinggal tidur oleh Muslihin.

Hingga sekitar pukul 02.00 WIB, Muslihin mendengar surara letusan bambu terbakar.

“Setelah saya lihat adanya kobaran api yang melalap kandang beserta isinya. Saya berusaha memadamkan namun berhubung api terlanjur membesar sehingga kobarakn api tidak bisa dikendalikan,” ungkap Muslihin.

Kapolsek  Kajoran, Polres Magelang, Polda Jateng,  Iptu Edy Suryono SH.MH, bersama Kanit Reskrim Iptu Insaf, Kanit Intel Aiptu Ponco dan Bhabinkamtibmas Bripka Bambang Kusdiyantom , telah mendatangi TKP kebakaran kandang ayam pedaging, di Dusun Karanganyar, Desa Sutopati Kajoran.

Kapolsek Kajoran mengatakan bahwa berdasarkan keterangan  pemilik kadang, Aminuddin, warga Sutopati. Kandang dengan ukuran 9 X 50 meter, dengan material tiang dan lantai terbuat dari bambu dan atap seng, terbakar Senin Dini hari (21/1) sekitar pukul 02.00 WIB.

“Dalam kebakaran ini tidak mengakibatkan korban jiwa , tetapi kurang lebih 6.900 ayam terpanggang dan pakan ayam sebanyak 25 karung ikut terbakar, untuk kerugian ditafsir Rp120.000.000,” terang Iptu Edy Suryono SH.MH.

Lebih lanjut Kapolsek Kajoran Edi Suryono mengharapkan demi keamanan kepada pemilik maupun penjaga kandang untuk selalu monitoring api yang buat menghangatkan ayam, jadi bisa mengendalikan kobaran api maupun percikan yang bisa menimbulkan kebakaran.

“Untuk kejadian ini merupakan salah satu kelalian pemilik maupun penjaga saat memberikan pemansan ayam ditinggal tidur sehingga api membesar tidak diketahui sehingga mengakibatkan kebakaran tersebut,” pungkas Edy.(cha)

Korban Banjir Butuh Salep Kulit

0
Korban Banjir Butuh Salep Kulit
BEROBAT. Sejumlah warga terdampak banjir tampak antri di pos kesehatan yang berada di lokasi banjir.

PURWOREJO – Persoalan kesehatan menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Purworejo setelah air yang menggenang surut serta warga yang mengungsi juga telah kembali ke rumah masing-masing. Selain itu, dapur umum yang sebelumnya digeser dari Butuh ke Grabag juga sudah ditutup.

Sejumlah warga di wilayah yang terkena dan terdampak banjir mengeluh pusing dan gatal-gatal usai banjir menerjang wilayahnya. Tak pelak, kehadiran posko pelayanan kesehatan yang dipusatkan di desa masing-masing terus disesaki warga.

Seperti yang terjadi di Desa Trimulyo, Rowodadi, dan Bendungan Kecamatan Grabag. Pantauan di lapangan, posko pelayanan kesehatan terus didatangai warga sejak pagi, kemarin. Warga rela mengantre cukup lama untuk memeriksa kesehatan mereka.

Bahkan Jumat lalu, lantaran banyaknya warga yang berobat Pos Kesehatan di Desa Bendungan sempat kehabisan stok obat. Namun saat ini stok obat terpantau aman, hanya butuh lebih banyak salep kulit dan minyak angin.

“Akibat masuk angin sehingga keluhannya pusing, kaki juga banyak yang mengeluh gatal-gatal akibat sering terendam air banjir. Kebanyakan yang berobat orang tua, bayi dan anak-anak. Yang masih banyak dibutuhkan adalah salep kulit dan minyak angin untuk bayi,” terang Dhani, bidan di Desa Bendungan.

Ia berharap pemerintah dapat segera memfasilitasi bantuan obat gatal dan minyak angin yang saat ini banyak dibutuhkan warga. Ia khawatir stok yang tersedia tidak mampu mencukupi kebutuhan warga lantaran banyaknya permintaan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD, Kelik Ardani yang juga memantau lokasi banjir Desa Bendungan menegaskan, akan segera berkomunikasi dengan dinas terkait agar sesegera mungkin mencukupi kebutuhan obat-obatan, khususnya minyak angin dan obat gatal yang kini diperlukan warga.

“Ya segera akan kita komunikasikan supaya kebutuhan obat dapat segera terpenuhi. Warga yang sakit agar dapat segera diobati,” katanya. (luk)

Satu Desa, Empat Titik Longsor

0
Satu Desa, Empat Titik Longsor
LONGSOR. Bencana tanh longsor terjadi di Dusun Winong Desa Karangwuni Kecamatan Pringsurat Selasa (22/1).

PRINGSURAT – Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Pringsurat khususnya di Desa Karang Wuni, Senin (21/1) petang, hingga Selasa (22/1), menyebabkan tanah longsor hingga empat titik.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Temanggung Gito Walngadi mengatakan, wilayah Kecamatan Pringsurat, terutama Desa Karangwuni ini memang menjadi daerah langanan terjadi bencana tanah longsor, sebab selain kondisi geografis desa berada di perbukitan, tanah di desa tersebut sangat labil.

“Apalagi saat musim penghujan seperti ini, tanah di desa tersebut sangat labil, sehingga sangat mudah longsor ketika diguyur hujan hingga berjam-jam,” kata Gito Selasa (22/1).

Sejak Senin malam hingga Selasa dini hari, Desa Karangwuni diguyur hujan tanpa henti, sehingga menyebabkan sebanyak empat titik tebing di dua dusun di desa tersebut mengalami longsor.

Disebutkan, pada Senin petang hingga malam hari terjadi tiga titik bencana longsor, tiga titik tersebut yakni, di Dusun Pucung 01/01 Desa Karangwuni tebing setinggi 7 meter dengan panjang 3 meter longsor dan mengenai 2 rumah milik Teguh Ihwan (50) dan rumah milik Surip (70). Titik kedua terjadi di Dusun Pucung 02/06 Desa Karangwuni tebing longsor dengan tinggi 7 meter dan panjang 15 Meter menimpa bagian tembok rumah milik Supardi (50), Yantini (60) dan M Nawawi (55)

“Di titik ini material longsor hanya mengenai tembok rumah saja, kerusakan tidak parah,” terangnya.

Sedangkan di titik ke 3 di Dusun Pucung 02/06 Desa Karangwuni, Longsor pada tebing jalan dan bahu jalan dengan tinggi 1 meter dan panjang 15 meter. Untuk sementara akses jalan cukup terganggu.

“Masih bisa dilalui sepeda motor, tapi harus ekstra hati-hati,” katanya.

Sedangkan untuk titik longsor ke empat terjadi pada Selasa (22/1) dini hari. Longsor ini juga terjadi karena imbas dari derasnya hujan pada Senin hingga Selasa pagi ini. Senderan Rumah Milik Agus Sutanto (35) Longsor dan menimpa Rumah Narsito (65) dan rumah milik Narsito mengalami tusak Ringan.

“Rumah Agus Sutanto Terancam longsor susulan. Volume longsor Tinggi 5 meter dan panjang 15 meter. Sebab rumah yang bersangkutan harganya masih  sangat tinggi,” tambahnya.

Ia menambahkan, dari empat titik kejadian tanah longsor ini, setidaknya mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

“Memang tidak ada korban jiwa, tapi untuk sementara warga yang rumahnya mengalami kerusakan terparah masih belum berani kembali menempati rumah mereka,” tandasnya. (set) 

Ratusan Jenazah Berhamburan Keluar

0
Pemakaman Umum Kalisat Amblas, Ratusan Jenazah Berhamburan Keluar
MEMINDAH. Warga Dusun Kalisat Trimulyo memindah dan menguburkan kembali ratusan jenazah di pemakaman dusun setempat yang amblas dan longsor kemarin.

Pemakaman Umum Kalisat Amblas

WONOSOBO – Pemandangan menakutkan terjadi di pemakaman Dusun Kalisat Desa Trimulyo Wadaslintang Sabtu ( 19 /1). Ratusan jenazah berhamburan keluar dari liang lahat, akibat pemakaman umum dusun setempat amblas dan longsor.

Longsor terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 09.30 WIB. Sebelumnya kawasan tersebut di dera hujan deras selama hampir 3 jam tanpa henti. Luasan tanah longsor dan amblas di pemakaman tersebut mencapai 400 meter dengan ketinggian 20 meter. Sedangkan luas makam yang longsor mencapai 2.500 meter persegi.

Saksi mata Muhksin (47) warga Dusun Kalisat Trimulyo mengemukakan, pemakaman umum Dusun Kalisat lokasi pemakaman mengalami kerusakan parah. Hal itu berdampak jenazah yang ada di pemakaman tersebut berhamburan.

“Tanah pemakaman longsor pada pukul 09.30 WIB pagi, banyak jenazah yang sudah dimakamkan lama terlihat. Bahkan ada yang terhempas cukup jauh dari lokasi semula, mengikuti arah longsor,” katanya.

Warga Dusun Kalisat sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian dan melakukan penguburan ulang terhadap 150 jenazah yang makamnya sudah rusak. Penguburan dilakukan secara massal.

“Semua makam yang rusak akibat tanah amblas sudah di pelihara oleh ahli warisnya. Mereka memakamkan di lokasi yang lebih datar dan tidak jauh dari area pemakaman semula,” terangnya

Sementara itu, Kapolsek Wadaslintang AKP Mun Sudaryanto membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutnya makam di Dusun Kalisat Tirmulyo mengalami amblas dan longsor. Area pemakaman rusak, banyak jenazah yang terlihat karena tanah pemakaman bergeser dan terbuka.

“Sudah kita hitung bersama dengan warga dan pemerintahan desa. Total ada 150 makam yang rusak dan harus dipindah ke lokasi yang aman. Jenazah kembali dikuburkan oleh sanak saudara atau ahli waris masing-masing,” ungkapnya.

Menurutnya, pemakaman massal kembali dilakukan pada Senin (21/1) pagi. Sebagian besar jenazah yang dipindah sudah lama meninggal, sehingga ada yang tinggal kerangkanya saja. Pemindahan dilakukan tidak jauh dari lokasi yang longsor. Warga mengubur jenazah di lokasi yang dianggap aman dari tanah amblas dan longsor.

“Pemindahan ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama, karena waktunya sama dengan membuat makam yang baru, tapi itu menjadi tugas ahli waris. Kita dari kepolisian ikut membantu proses pemakaman,” pungkasnya. (gus)

Pencarian Korban Diperpanjang 7 Hari, Libatkan 20 Ahli Pemecah Batu

0
Pencarian Korban Diperpanjang 7 Hari, Libatkan 20 Ahli Pemecah Batu
PENCARIAN . Proses pencarian terhadap korban longsor di Dusun Windusari Desa Tlogojati terus dilakukan oleh tim gabungan.

WONOSOBO– Proses pencarian terhadap korban longsor di Dusun Windusari Desa
Tlogojati terus dilakukan oleh tim gabungan.  Hingga pukul 15.00 WIB korban
belum kunjung ditemukan. Akibat cuaca buruk, proses evakuasi terpaksa dihentikan.

“Kami akan melakukan proses pencarian terhadap terduga korban longsor yang
tertimbun batuan, ini sudah hari ketiga. Batas waktu sampai hari ke tujuh,” ungkap Bupati Wonosobo Eko Purnomo, di sela monitoring lokasi longsor kemarin.

Menurutnya, dari pantuan yang dilakukan serta koordinasi bersama antara pemerintah desa serta instansi terkait, diduga kuat salah satu penyebab longsor lantaran sistem drainase di Dusun Windusari Tlogojati tidak cukup memadai.

“Kami melihat saluran tidak teratur dan banyaknya kolam ikan. Jadi, ketika
ditambah dengan derasnya hujan sejak pekan lalu memberi pengaruh pada kondisi tanah serta  batuan yang ada didalamnya,” terang bupati.

Dalam waktu dekat, dinas terkait akan melakukan monitoring lebih mendalam untuk memastikan pembuatan sistem drainase yang memenuhi syarat, sedangkan pada lokasi yang ambrol akan dilakukan penguatan.

“Yang mendesak dilakukan ya perbaikan drainase dan pengaturan kolam-kolam yang ada,” katanya.

Sementara itu, instruksi komando  pencarian korban oleh Danramil Wonosobo Kapten
Inf Heru Utomo menegaskan bahwa pencarian korban terus dilanjutkan dengan melibatkan bantuan dari pemecah batu asal Kelurahan Andongsili Kecamatan Mojotengah.

“Hari ini kembali dilakukan pencarian terhadap korban yang diduga terjebak di bawah batuan besar, kita mendapatkan bantuan 20 tenaga pemecah batu manual dari kelurahan Andongsili,” ungkapnya.

Menurutnya, tenaga pemecah batu tersebut secara sukarela menawarkan bantuan untuk terlibat dalam pencarian korban. Keberadaan mereka penting mengingat faktor utama kesusahan tim gabungan dalam menemukan korban terkait dengan adanya tiga batu besar.

“Ada tiga batu besar yang diduga menutup korban, maka penyingkiran batu tersebut harus dilakukan. Padahal, alat berat tidak mampu menggeser batu tersebut sehingga relawan pemecah batu menjadi salah satu alternatif,” katanya.

Sedangkan Camat Wonosobo, Zulfa Ahsan Alim Kurniawan mengatakan, akan terus
memantau dan memastikan kolam milik warga Windusari yang tidak jauh dari lokasi longsor untuk segera dimatikan.

“Kolam ini menjadi salah satu penyebab. Air yang melimpah dari kolam masuk ke  bibir jurang dan membuat lokasi itu jenuh lalu longsor,” katanya.

Penyebab lain dari longosr tersebut adalah saluran drainase serta  pembuangan sampah secara sembarangan di tebing batu si geong.  Sehingga warga Windusari diimbau untuk mengelola sampah dan membangun sistem drainase yang lebih baik . (gus)

Dua Ruang Kelas SD Jatirejo Hancur

0
Dua Ruang Kelas SD Jatirejo Hancur
TUNJUKKAN. Kepala SD Negeri Jatirejo 2 Kecamatan Kaligesing saat menunjukkan atap sekolah yang roboh tertimpa batang pohon.

Tertimpa Pohon Berumur Ratusan Tahun

PURWOREJO – Dua lokal ruang kelas milik SD Negeri Jatirejo 2 di Desa Jatirejo Kecamatan Kaligesing Purworejo mengalami rusak berat setelah tertimpa batang pohon Ipik berukuran besar yang berusia ratusan tahun, Sabtu (19/1) lalu. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan dengan menggunakan ruangan perpustakaan yang disekat-sekat menggunakan rak buku.

Penjaga sekolah, Puji Karyanto mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB. Beruntung tidak ada orang saat kejadian. Sehingga tidak menimbulkan korban.

“Batang Pohon Ipik itu tumbuh di area pemakaman desa yang letaknya berada tidak jauh di belakang sekolahan. Untung saja dahan tumbang ketika kelas kosong, sehingga tidak jatuh korban,” terangnya, Senin (21/1).

Lebih lanjut dikatakannya, batang pohon itu tumbang diduga karena keropos. Pohon Ipik di pemakaman desa itu telah berumur ratusan tahun dan dikeramatkan masyarakat sekitar. Selain itu, hujan lebat dan angin kencang melanda desa sehari sebelumnya.

Batang berdiameter 40 sentimeter dengan panjang 15 meter itu mematahkan kayu rangka utama atap sekolah. Reruntuhan atap jatuh ke dalam kelas dan merusak sebagian meja, kursi dan lemari dalam ruangan itu.

Kepala SD Jatirejo 2 Nur Silastuti mengatakan, masyarakat membantu membersihkan puing dalam kelas. Selain itu, pihak sekolah meminta bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo.

“Guru, warga, BPBD, TNI dan Polri kerja bakti pada Sabtu dan baru selesai Minggu sore,” tuturnya.

Untuk mendukung pembelajaran, sekolah membagi ruang perpustakaan menjadi dua. Pihaknya menyekat ruangan dengan rak buku, separuh dipakai kelas 1 dan separuh untuk kelas 2. Mereka belajar lesehan di atas tikar.

“Pihak sekolah telah melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dinbudpora) Purworejo. Dari dinas juga sudah mengecek, harapan kami kelas bisa cepat diperbaiki, sehingga anak-anak tidak harus lama belajar di perpustakaan,” ungkapnya. (luk)

ASN Ditekan Bekerja Kreatif dan Inovatif

0
ASN Ditekan Bekerja Kreatif dan Inovatif
PELANTIKAN. Pejabat fungsional dilantik langsung oleh Bupati Magelang Zaenal Arifin SIP, sejumlah 142 orang diberbagai dinas dan instansi.

Lantik 142 Pejabat Fungsional
MUNGKID – Bupati Magelang Zaenal Arifin SIP menekankan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) agar bekerja kreatif dan inovatif sesuai dengan keahlian dan keterampilannya. Hal tersebut disampaikan saat pelantikan pejabat fungsional di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang di Pendopo Drh Soepardi Kota Mungkid. Senin (21/1).

“Jabatan fungsional berdasarkan keahlian meliputi ahli utama, ahli madya, ahli muda dan ahli pertama. Begitu pula dengan jabatan fungsional ketrampilan dengan jenjang meliputi penyelia, mahir, terampil dan pemula. Saudara-saudara yang telah diangkat dalam jabatan fungsional memiliki tugas memberikan pelayanan fungsional berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki. Dan diharapkan agar dapat lebih kreatif dan inovatif,” ucap Zaenal.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang, melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Magelang Nomor 180.182/821.3/07/KEP/22/2019 telah melantik sebanyak 142 pejabat fungsional di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang.

Yaitu terdiri dari Penyuluh pertanian 48 orang, Pengawas Benih Tanaman 3 orang, Pengawas Pemerintahan P2UPD 2 orang, Pengendali Dampak Lingkungan 1 orang, dokter 1 orang, perawat 1 orang, Bidan 83 orang, Arsiparis 1 orang, Instruktur 1 orang, Pamong Belajar 1 orang. Dan total pejabat fungsional yang dilantik 142 orang.

Menurut Bupati Magelang, Zaenal Arifin, proses pengambilan sumpah janji jabatan tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena Pemerintah Kabupaten Magelang baru saja usai melaksanakan Pemilukada.

“Dalam Pemilukada ini memberikan regulasi dan aturan main bahwa Kepala Daerah tidak bisa melakukan mutasi atau perpindahan kecuali mendapat ijin dari Menteri Dalam Negeri,” ungkap Zaenal.

Zaenal mengatakan, menurut PP 11 Tahun 2017 ada pejabat fungsional yang terbagi menjadi dua, yakni fungsional berdasarkan keahlian dan fungsional yang berdasarkan keterampilan. Dan hal yang paling harus diingat adalah seluruh pejabat ini merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN). Dimana harus selalu ingat pada sumpah janjinya sebagai pegawai ASN.

“Kalau dulu pernah diambil sumpah pada saat CPNS, maka sekarang diambil sumpah lagi menjadi pejabat fungsional dilingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang. Saya berpesan agar para pejabat fungsional ini nanti dapat menerapkan sistem kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk membantu dalam menjalankan regulasi di Kabupaten Magelang,” kata Zaenal.

Terkait dengan kreatifitas dan inovasi, Zaenal menyampaikan, saat ini memasuki generasi four point zero, dimana penggunaan teknologi dapat mendukung inovasi dan kreatifitas kinerja.

“Memasuki generasi four point zero, semua berjalan begitu cepat dengan menggunakan media teknologi yang luar biasa.

Maka kita juga harus arif dan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung kinerja kita,” pungkas Zaenal. (cha)

PELANTIKAN. Pejabat fungsional dilantik langsung oleh Bupati Magelang Zaenal Arifin SIP, sejumlah 142 orang diberbagai dinas dan instansi.

Dihantam Angin, Delapan Rumah Rusak

0
Dihantam Angin, Delapan Rumah Rusak
ANGIN RIBUT. Puluhan rumah rusak akibat angin kencang saat turun hujan di dua desa Kecamatan Windusari.

WINDUSARI – Hujan dengan intesitas ringan – sedang disertai angin kencang terjadi di wilayah Kecamatan Windusari, Senin (21/1), sejak pukul 14.00 WIB mengakibatkan delapan rumah rusak ringan. Tepatnya di Dusun Tinjumoyo, Desa Umbulsari, serta delapan rumah rusak ringan di Dusun Pringapus, Desa Candisari, Kecamatan Windusari.

Sabagian besar rumah rusak pada bagian atap rumah atau genteng yang berhamburan akibat tersapu angin kencang.

“Kejadian bencana angin ribut memang kerap terjadi di daerah pegunungan. Masyarakat diharapkan untuk waspada, agar dapat mengamankan diri bila bencana terjadi, untuk meminimalisir korban,” ucap Kepala BPBD Kabupaten Magelang Edy Susanto.

Kegiatan upaya Penanganan dilaksanakan kaji cepat oleh Satgas BPBD Kabupaten Magelang. Penanganan oleh BPBD bersama TNI, POLRI, relawan FPRB Lembing dan warga.

“Hujan masih terjadi di wilayah Kecamatan Windusari saat dilakukan penanganan sempat menjadi kendala. Sampai dengan pukul 18.00 WIB progress penanganan atap rumah yang rusak sudah 80 %,” papar Edy.

Pihak Edy juga melakukan dropping barang logistik untuk kerja bakti warga yang membetulkan kembali bagian bangunan rumah yang tersapu angin.

“Kami juga memperhatikan logistik untuk warga yang saling membantu membetulkan genting rumah, dengan bantuan logistik, agar pekerjaan cepat selesai,” ungkap Edy.(cha)

Ikuti kami

0FansLike
0FollowersFollow
8,388SubscribersSubscribe

Berita Terkini

Cuaca Hari Ini

Magelang, ID
moderate rain
29.4 ° C
30 °
29 °
70 %
3.1kmh
40 %
Wed
29 °
Thu
27 °
Fri
27 °
Sat
27 °
Sun
26 °